SULAWESI TENGAH — Sedikitnya 67 pekerja tewas setelah tambang emas Al Zara di Kota Nuhud, Provinsi Kordofan Barat, Sudan, runtuh pada Selasa (15/9/2026) malam. Ratusan pekerja dilaporkan masih terjebak di dalam lubang tambang, sementara upaya pencarian korban terus berlangsung.
Jaringan Dokter Sudan, lembaga kemanusiaan medis yang memantau kondisi di lapangan, menyatakan jumlah korban tewas masih mungkin bertambah. Tim SAR dilaporkan terus mencari orang-orang yang terjebak di dalam tambang.
Para korban selamat menuturkan bahwa runtuhnya tambang terjadi secara mendadak saat ratusan pekerja berada di dalam lubang. Mereka menyebut tanah longsor menimbun pekerja dalam jumlah besar dalam waktu singkat.
Jaringan Dokter Sudan menilai tambang tersebut beroperasi tanpa standar keselamatan dan perlindungan yang memadai bagi para pekerja. Kondisi ini memperbesar risiko kecelakaan fatal, terutama di wilayah yang minim pengawasan.
Kordofan Barat sendiri merupakan wilayah yang dikendalikan Pasukan Dukungan Reaksi Cepat (RSF), paramiliter yang berperang melawan pasukan pemerintah Sudan selama lebih dari tiga tahun. Konflik berkepanjangan itu membuat aktivitas penambangan di kawasan tersebut berjalan di luar pengawasan otoritas resmi.
Upaya evakuasi dan pencarian korban di lokasi kejadian berlangsung di tengah situasi keamanan yang belum stabil. Wilayah Kordofan Barat termasuk area konflik aktif, sehingga akses tim penyelamat dan bantuan kemanusiaan menghadapi kendala tersendiri.
Belum ada keterangan resmi mengenai jumlah pasti pekerja yang berada di dalam tambang saat peristiwa terjadi. Pihak berwenang setempat juga belum merilis data terbaru soal korban luka maupun selamat.
Penutup: Runtuhnya tambang emas Al Zara menambah daftar kecelakaan kerja di sektor pertambangan Sudan yang beroperasi tanpa pengawasan ketat. Peristiwa ini menegaskan risiko besar yang dihadapi pekerja tambang di wilayah konflik, tempat standar keselamatan kerap diabaikan.