Kanwil Ditjenpas Sulteng Bekali Peserta Maganghub di Lapas Ampana: Disiplin dan Etika Kunci Masuk Dunia Kerja

Penulis: Irfan Hakim  •  Sabtu, 29 Agustus 2026 | 13:01:31 WIB
Puluhan peserta magang program Maganghub menerima pembekalan kedisiplinan dan etika kerja dari Kanwil Ditjenpas Sulawesi Tengah di Aula Sivia Patuju, Lapas Kelas IIB Ampana, Sabtu (29/8).

AMPANA — Puluhan peserta magang program Maganghub yang bertugas di Lapas Kelas IIB Ampana menerima penguatan mental dan etika kerja dari jajaran Kanwil Ditjenpas Sulawesi Tengah, Sabtu (29/8). Pembekalan yang berlangsung di Aula Sivia Patuju tersebut difokuskan pada pembentukan kedisiplinan dan tanggung jawab, bukan sekadar pemenuhan jam kerja praktik.

Kepala Lapas Kelas IIB Ampana, Febriansyah, hadir mendampingi jajaran pejabat struktural yang bertindak sebagai mentor. Para peserta yang mengikuti kegiatan ini sebelumnya telah dinyatakan lolos verifikasi dan memenuhi persyaratan program.

Aturan Lapas Jadi Ujian Pertama Kedisiplinan Peserta

Maulana mengingatkan bahwa lingkungan Lapas memiliki aturan ketat yang berbeda dari tempat magang pada umumnya. Kepatuhan terhadap protokol keamanan dan tata tertib internal menjadi penilaian awal yang tidak bisa ditawar.

"Selama melaksanakan magang, saya berharap adik-adik dapat menaati seluruh peraturan yang ada, menjaga sikap dan sopan santun, serta menunjukkan tanggung jawab dalam setiap tugas yang diberikan. Berikan yang terbaik selama mengikuti kegiatan magang," ujar Maulana.

Etika dan Komunikasi Dinilai Sama Penting dengan Skill Teknis

Ia menegaskan bahwa kualitas seseorang di dunia kerja tidak hanya diukur dari kemampuan teknis. Sikap menghargai rekan kerja, kemampuan menerima arahan, dan cara menempatkan diri menjadi nilai jual yang sering kali lebih menentukan karier seseorang.

Maulana mendorong peserta aktif bertanya kepada mentor dan memahami mekanisme kerja di instansi pemerintah. Kemampuan bekerja sama dan berkomunikasi efektif dengan pegawai disebutnya sebagai bekal krusial saat mereka memasuki pasar kerja secara penuh.

Motivasi: Terbuka terhadap Kritik dan Cari Cara Kerja Efektif

Dalam arahannya, Maulana juga menyampaikan bahwa kesuksesan dimulai dari kemauan untuk terus belajar. Ia meminta peserta tidak alergi terhadap nasihat dan kritik yang membangun.

"Kalau ingin menuju kesuksesan, kita harus mau belajar, mau menerima nasihat, dan terbuka terhadap kritik serta masukan. Karena setiap nasihat yang baik merupakan bagian dari proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik," pesannya.

Ia juga memberi kiat praktis soal penyelesaian pekerjaan. "Pekerjaan jangan dibuat susah. Kalau ada cara yang lebih mudah, lebih efektif, dan tetap sesuai aturan, lakukan dengan sebaik-baiknya. Yang penting bukan sekadar pekerjaan selesai, tetapi bagaimana pekerjaan itu dapat diselesaikan dengan tepat dan bertanggung jawab," lanjutnya.

Peserta Mengaku Termotivasi, Lapas Siap Jadi Ruang Belajar

Para peserta mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai etika profesional. Salah seorang peserta menilai materi yang diberikan menjadi penyemangat untuk menjalani masa magang dengan lebih serius.

"Pengarahan ini menjadi motivasi bagi kami untuk lebih disiplin, menjaga sikap, serta memberikan yang terbaik selama mengikuti kegiatan magang di Lapas Kelas IIB Ampana. Kami juga mendapatkan banyak pelajaran mengenai etika dan tanggung jawab di lingkungan kerja," ungkapnya.

Febriansyah memastikan jajarannya siap memberikan pendampingan terbaik. Program ini diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan teori di bangku pendidikan dengan praktik nyata di lingkungan pemerintahan.

"Kami berharap para peserta dapat mengikuti seluruh proses magang dengan sungguh-sungguh, memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar, serta membangun komunikasi yang baik dengan para mentor dan seluruh jajaran. Jadikan setiap tugas dan pengalaman yang diperoleh sebagai bekal untuk menghadapi dunia kerja ke depan," ujar Febriansyah.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: infotouna.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top