SULAWESI TENGAH — Jakarta — BYD memperkuat dominasinya di pasar Amerika Latin lewat langkah yang belum pernah dilakukan pabrikan lain. Song Pro Super-Híbrido Flex Fuel, yang dirakit di Camacari, Bahia, bukan sekadar PHEV biasa—mesinnya dirancang untuk membakar etanol, bensin, atau kombinasi keduanya, menyesuaikan kebiasaan konsumen Brasil yang sejak lama akrab dengan bahan bakar nabati.
Senior Vice President BYD Brasil, Alexandre Baldy, menyebut model ini sebagai proyek simbolis yang dikembangkan bersama tim riset Brasil dan Tiongkok. "Kolaborasi perdana ini menghasilkan proyek yang dirancang khusus untuk pasar Brasil," ujarnya dalam seremoni peluncuran yang dikutip Reuters.
BYD membagi Song Pro Flex menjadi dua level trim. Varian GL menawarkan jangkauan listrik penuh 60 kilometer, sementara GS menggandakannya menjadi 120 kilometer—angka yang cukup untuk mobilitas harian warga kota tanpa menyentuh mesin bensin sama sekali.
Kendaraan ini mulai tersedia di seluruh jaringan dealer Brasil mulai Rabu (21/5). Pabrik Camacari sendiri baru beroperasi penuh sejak Oktober 2025, dan kini memasok sebagian besar target penjualan BYD di Brasil yang dipatok 200.000 unit sepanjang 2026.
Kompleks manufaktur Camacari menyerap investasi sekitar 5,5 miliar real Brasil, atau setara Rp 15,7 triliun dengan kurs estimasi Rp 2.850 per real. Tahun ini pabrik ditargetkan memproduksi 180.000 unit kendaraan, menjadikannya pusat produksi sekaligus basis ekspor BYD untuk kawasan Amerika Latin.
Baldy menambahkan, penggunaan komponen lokal sudah menembus 50 persen dan akan terus ditingkatkan. Targetnya, pada Januari 2027 seluruh kendaraan produksi Brasil harus memakai komponen dalam negeri sepenuhnya. BYD juga berencana memproduksi baterai dan komponen utama lain di fasilitas yang sama.
Meski dikembangkan khusus untuk Brasil, flex-fuel hybrid ini punya peluang diekspor. Baldy menyebut India sebagai kandidat kuat, seiring meningkatnya penggunaan etanol di sejumlah negara berkembang. Ini membuka peluang bagi BYD untuk menjual teknologi yang sama ke pasar lain dengan infrastruktur etanol yang sudah mapan.
Kinerja BYD di Brasil memang sedang melesat. Juli lalu, penjualan bulanan mencapai rekor 23.465 unit—lebih dari dua kali lipat dibanding 9.680 unit pada periode yang sama tahun sebelumnya. Model Dolphin GS menjadi kendaraan ritel terlaris dengan 5.861 unit, mengangkat pangsa pasar BYD ke 9,1 persen dan menempatkannya sebagai produsen otomotif terbesar keempat di Brasil.
Langkah BYD ini menarik dicermati karena Brasil menjadi pasar pertama di dunia yang menerima PHEV berbahan bakar etanol secara massal. Jika berhasil, teknologi ini bisa menjadi standar baru bagi kendaraan elektrifikasi di negara-negara penghasil tebu, termasuk Indonesia yang tengah menggencarkan program mandatori biodiesel dan eksplorasi etanol.