SULAWESI TENGAH — Kepala Cabang Perum Bulog Lebak-Pandeglang, Muhammad Syaukani, mengungkapkan bahwa total 40.000 ton GKP yang diserap setara dengan 20.000 ton beras. Angka ini bukan sekadar angka statistik; di baliknya, ada dampak ekonomi langsung yang terukur.
Dengan harga pembelian GKP sebesar Rp6.500 per kilogram, ditambah biaya transportasi dari sawah ke penggilingan dan biaya pengelolaan, perputaran uang yang disumbangkan ke ekonomi lokal diperkirakan menembus angka Rp300 miliar. "Penyerapan gabah petani mencapai sebanyak 40.000 ton atau setara beras 20.000 ton," kata Syaukani di Lebak, Jumat.
Gabah yang terkumpul tidak hanya disimpan di gudang. Bulog mendapat penugasan khusus dari pemerintah untuk memperkuat Cadangan Beras Pemerintah (CBP). Stok ini akan dialokasikan untuk berbagai program strategis, seperti Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), bantuan pangan, serta penanganan bencana.
Syaukani menambahkan, serapan ini akan terus dioptimalkan hingga akhir tahun. Saat ini, panen masih berlangsung di wilayah selatan Lebak dan Pandeglang, mencakup Malingping, Wanasalam, Panimbang, Cikeusik, hingga Cibaliung. "Kami terus melakukan serapan gabah sebanyak-banyaknya untuk mendukung ketersediaan beras nasional 4 juta ton," ujarnya.
Selain menjaga stabilitas harga di pasar, kebijakan ini bertujuan langsung meningkatkan pendapatan petani. Dengan harga beli yang sudah ditetapkan, petani mendapat kepastian pasar di tengah fluktuasi harga komoditas.
Untuk memaksimalkan serapan, Bulog menggandeng gabungan kelompok tani (gapoktan), Babinsa, penyuluh pertanian, Dinas Pertanian, serta Dinas Ketahanan Pangan setempat. Sosialisasi dan penguatan kemitraan terus dilakukan agar target akhir tahun 2026 bisa tercapai.
Ke depan, stok yang terkumpul akan digunakan untuk mendukung program bantuan pangan yang digulirkan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada akhir Juli hingga Desember 2026. Dengan capaian yang sudah melampaui target di semester pertama, optimisme terhadap ketahanan pangan nasional pun semakin kuat.