SULAWESI TENGAH — Mobil listrik modern memang sudah menawarkan jarak tempuh yang makin panjang, bahkan ada yang tembus di atas 480 kilometer (300 mil) dalam pengujian EPA. Namun, dalam perjalanan jauh atau saat melewati daerah yang minim infrastruktur pengisian daya (EV charging desert), setiap kilometer ekstra sangat berharga. Alih-alih panik, ada beberapa teknik berkendara yang bisa Anda terapkan untuk memaksimalkan daya baterai.
Langkah-langkah ini tidak hanya soal mengemudi pelan, tapi juga menyangkut kebiasaan sehari-hari yang sering diabaikan. Berikut lima cara yang bisa langsung dipraktikkan.
Tidak seperti mobil konvensional yang membuang energi kinetik saat mengerem menjadi panas, mobil listrik dan hybrid mampu menangkap energi tersebut. Sistem pengereman regeneratif (regenerative braking) mengubah motor listrik menjadi generator yang mengisi ulang baterai saat mobil melambat.
Departemen Energi AS menyebutkan, teknik ini bisa memulihkan hingga 22 persen energi yang biasanya terbuang, terutama saat kombinasi berkendara di kota dan jalan tol. Efeknya memang tidak langsung terasa dalam sekali pengereman, tapi akumulasinya signifikan untuk menambah beberapa kilometer jarak tempuh.
Berbeda dengan mobil bermesin bensin yang menggunakan kompresor terpisah, sistem AC pada EV mengambil daya langsung dari baterai utama. Artinya, setiap derajat pendinginan yang Anda setel, berkurang pula jarak tempuh yang tersedia.
Trik paling efektif adalah melakukan preconditioning saat mobil masih terhubung ke pengisi daya di rumah. Biarkan sistem mendinginkan atau memanaskan kabin hingga suhu nyaman sebelum Anda berangkat, sehingga baterai tidak perlu bekerja ekstra saat di jalan. Sebagai alternatif, gunakan sun shade di kaca depan, buka jendela sebentar untuk mengeluarkan udara panas, atau manfaatkan fitur ventilated seat jika tersedia.
Cuaca dingin adalah musuh utama baterai. Suhu beku memperlambat reaksi kimia di dalam sel baterai yang menghasilkan daya. Departemen Energi AS mencatat, suhu di bawah titik beku (0 derajat Celcius) bisa memangkas jarak tempuh EV hingga 32 persen.
Uji nyata oleh Consumer Reports juga menunjukkan bahwa pada suhu sekitar -9 derajat Celcius (16 derajat Fahrenheit) dengan kecepatan 112 km/jam (70 mph), jarak tempuh EV bisa berkurang 25 persen dibandingkan saat berkendara di suhu 18 derajat Celcius. Selain itu, kebutuhan untuk memanaskan kabin juga ikut menguras baterai.
Aerodinamika sangat krusial bagi mobil listrik. Semakin kecil hambatan angin (drag), semakin efisien baterai digunakan. Inilah mengapa pabrikan seperti Lucid Air berlomba meraih koefisien drag serendah 0,197.
Untuk menjaga performa, lepaskan aksesori seperti roof rack, bike rack, atau crossbars yang tidak diperlukan. Benda-benda ini menciptakan hambatan udara yang signifikan. Selain itu, buang barang-barang tidak berguna di bagasi. Bobot ekstra, sekecil apapun, akan memaksa motor listrik bekerja lebih keras dan mengurangi efisiensi.
Godaan untuk merasakan akselerasi instan mobil listrik memang besar. Namun, setiap kali Anda menginjak pedal gas dalam-dalam (lead foot), daya yang terkuras sangat besar. Kebiasaan ini tidak efisien, terutama jika dilakukan di setiap persimpangan.
Untuk jarak tempuh maksimal, biasakan menggunakan cruise control atau aktifkan eco mode yang tersedia. Uji coba oleh Car and Driver menunjukkan, perbedaan kecepatan 88 km/jam (55 mph) dan 120 km/jam (75 mph) pada Kia EV9 bisa menyebabkan selisih jarak tempuh hingga lebih dari 160 kilometer (100 mil). Semakin cepat Anda melaju, semakin besar hambatan udara yang harus dilawan.