SULAWESI TENGAH — Prediksi Klement langsung menjadi perbincangan hangat di kalangan penggemar sepak bola dunia. Pasalnya, pria yang bekerja sebagai ekonom ini memiliki rekor sempurna: ia tepat menebak juara Piala Dunia 2014, 2018, dan 2022. Konsistensi itu membuat ramalannya kali ini—yang terbilang tidak biasa—diteliti banyak pihak.
Berbeda dengan prediksi superkomputer atau analis olahraga pada umumnya, Klement tidak mendasarkan analisisnya pada statistik performa tim. Ia justru menggunakan tiga variabel utama: statistik, ekonomi, dan demografi. Dari kombinasi tiga elemen inilah muncul probabilitas tertinggi yang ia yakini akan menjadi kenyataan.
"Karena saya benar tiga kali berturut-turut, orang-orang sekarang berpikir bahwa model ini tak terkalahkan," kata Klement dalam wawancara dengan CNN, seperti dikutip Bein Sports. Ia mengimbau publik untuk tidak percaya begitu saja pada ramalannya, yang awalnya ia buat hanya sebagai lelucon.
Mengapa Belanda? Klement berasumsi bahwa Oranje memiliki "hutang sejarah" setelah kalah di tiga partai final: 1974, 1978, dan 2010. Ia menilai skuad asuhan Ronald Koeman memiliki latar belakang untuk menciptakan inflasi prestasi—alih-alih deflasi yang terlihat sekilas.
Dalam skenario Klement, partai puncak Piala Dunia 2026 akan mempertemukan Belanda melawan Portugal. Oranje diprediksi keluar sebagai pemenang dan meraih bintang pertamanya.
"Jika ia terbukti benar sekali lagi, Belanda tidak hanya akan meraih bintang pertamanya, tetapi juga menegaskan julukan 'ahli matematika piala dunia'," tulis Bein Sports dalam laporannya. Klement sendiri mengakui bahwa prediksinya bukanlah jaminan. Ia hanya menyajikan probabilitas berdasarkan data yang ia olah.
Terlepas dari kontroversi metodenya, fakta bahwa Klement tiga kali berturut-turut tepat membuat namanya kini diperhitungkan. Publik sepak bola dunia tinggal menunggu apakah ramalan ini akan kembali menjadi kenyataan pada 2026.