PALU — Laju inflasi di Sulawesi Tengah pada Mei 2026 tercatat sebesar 2,77 persen secara tahunan. Angka ini menunjukkan peningkatan harga barang dan jasa secara umum dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Berdasarkan data yang dirilis BPS Sulteng, kelompok transportasi menjadi penyumbang utama terhadap inflasi tahunan tersebut. Lonjakan harga pada sektor ini memberikan tekanan paling signifikan terhadap daya beli masyarakat di Bumi Tadulako.
Kendati demikian, rincian lebih lanjut mengenai komoditas spesifik dalam kelompok transportasi yang mengalami kenaikan harga belum dirilis secara detail oleh BPS setempat.
Angka inflasi ini menjadi perhatian bagi pemerintah daerah dan pelaku usaha di Sulawesi Tengah. Kenaikan biaya transportasi secara langsung berdampak pada ongkos logistik dan harga barang kebutuhan pokok di pasaran.
Kenaikan harga di sektor transportasi kerap menjadi sinyal awal bagi kenaikan harga komoditas lainnya. Pasalnya, biaya distribusi barang dari pelabuhan atau pusat produksi ke pedagang eceran ikut membengkak.
Masyarakat di sejumlah kota seperti Palu, Luwuk, dan Poso biasanya merasakan dampak langsung dari fluktuasi biaya transportasi ini terhadap harga sembako di pasar tradisional.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah diharapkan segera mengambil langkah stabilisasi harga, terutama dengan mengintervensi biaya transportasi atau memastikan pasokan bahan bakar tetap lancar. Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Sulteng biasanya akan menggelar rapat koordinasi untuk merumuskan kebijakan antisipatif.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Gubernur Sulawesi Tengah terkait langkah konkret menekan laju inflasi yang dipicu sektor transportasi ini.