SULAWESI TENGAH — Ketua DPD LDII Kudus, Muhammad Asad, menyoroti pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak saat memasuki usia sekolah. Kenali lima tanda gangguan tumbuh kembang sejak dini agar ibu dan guru bisa memberi pendampingan yang tepat, bukan langsung melabeli anak malas atau kurang mampu.
Memasuki usia sekolah, anak mengalami perubahan fisik dan kemampuan belajar yang cukup pesat. Sayangnya, banyak ibu baru menyadari ada hambatan ketika anak sudah kesulitan mengikuti pelajaran di kelas.
Muhammad Asad, Ketua DPD LDII Kudus, menekankan bahwa pemantauan tumbuh kembang sebaiknya jadi perhatian bersama keluarga dan sekolah. Perubahan berat badan, tinggi badan, konsentrasi, hingga kemampuan membaca dan berhitung bisa jadi petunjuk penting.
Pertumbuhan anak bisa dipantau lewat berat badan, tinggi badan, lingkar kepala sesuai usia, dan status gizi. Tanda yang perlu diwaspadai adalah tinggi badan yang sulit bertambah atau berat badan yang tidak naik sesuai pola usianya.
Kenaikan berat badan berlebih juga bukan berarti aman. Kondisi ini tetap perlu diperhatikan karena bisa memengaruhi kesehatan anak dalam jangka panjang.
Asad menyebut kecukupan nutrisi, aktivitas fisik, waktu tidur, faktor keturunan, dan kondisi kesehatan sama-sama memengaruhi pertumbuhan anak. Karena itu, biasakan anak makan makanan bergizi seimbang dan batasi asupan tinggi gula atau rendah zat gizi.
Dorong juga anak bergerak aktif setiap hari. Jaga waktu tidurnya sesuai usia, karena kurang tidur sering membuat anak sulit fokus saat belajar.
Anak dengan kecerdasan normal atau bahkan tinggi tetap bisa mengalami hambatan pada kemampuan tertentu. Kesulitan membaca dikenal sebagai disleksia, kesulitan berhitung disebut diskalkulia, sedangkan hambatan menulis berkaitan dengan disgrafia.
Sebagian anak juga mengalami kesulitan koordinasi gerak yang dapat berkaitan dengan dispraksia. Amati apakah kesulitan itu muncul berulang, bukan hanya sekali-dua kali saat anak sedang lelah.
Kemampuan berkonsentrasi anak berkembang seiring pertambahan usia. Salah satu perkiraan sederhana yang kerap dipakai adalah rentang fokus sekitar dua hingga tiga menit dikalikan usia anak.
Dengan hitungan itu, anak berusia lima tahun punya rentang perhatian sekitar 10–15 menit. Angka ini bukan patokan