SULAWESI TENGAH — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengidentifikasi serpihan logam yang jatuh di perkebunan sawit Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, sebagai bagian dari roket Zhuque 2E milik China. Roket itu diluncurkan dari Dongfeng, China barat laut, pada 14 Oktober 2026 dan sukses menempatkan 10 satelit ke orbit. Insiden ini mencuatkan persoalan sampah antariksa yang melintasi wilayah Indonesia.
Puing berdiameter tak kecil itu pertama kali dilaporkan pekerja kebun PT Agro Bukit, KM26, pada Senin (19/10). Sejumlah warga sempat mendengar dentuman pada Minggu (18/10) sore, sekitar pukul 17.36 WIB, sebelum serpihan ditemukan di sedikitnya dua titik perkebunan.
Person in Charge (PIC) Civil Aviation Publication Team (CAPT) Bandara H Asan Sampit, Zachrudien, menyebut identifikasi mengacu pada informasi BRIN. Pihak bandara berkoordinasi dengan BRIN dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sebelum menyimpulkan asal benda tersebut.
Zhuque 2E merupakan roket pembawa satelit yang lepas landas dari zona percontohan inovasi antariksa komersial Dongfeng, wilayah barat laut China, pada Rabu (14/10). Roket mengangkut 10 satelit dan menempatkannya di orbit yang ditentukan.
Misi uji terbang itu dinyatakan berhasil sepenuhnya. Delapan dari 10 satelit merupakan bagian kelompok 02 proyek "star compute" milik Adaspace Technology Co., Ltd. (ADAspace), dirancang beroperasi pada orbit fajar-senjata.
Satelit kelompok 02 membawa perangkat komputasi berkinerja tinggi, komunikasi laser berkecepatan tinggi antarsatelit maupun satelit-Bumi, serta kamera untuk kondisi minim cahaya. Pengujiannya mencakup sistem sirkulasi cairan pendingin pada daya 10.000 watt dan panel pendingin radiasi berukuran besar yang dapat dibentangkan.
ADAspace juga menguji pelatihan model fondasi AI di orbit. Proyek "star compute" ditargetkan membangun infrastruktur AI antariksa berisi 2.800 satelit komputasi. Kelompok pertama diluncurkan Mei 2025, kelompok ketiga dijadwalkan mengorbit pada 2026.
Salah satu kunci identifikasi adalah kode "2ZQE31-20-15 240256KY" yang tertera pada serpihan. KNKT mencermati kode itu karena mirip dengan nama Zhuque 2E, lalu berkoordinasi dengan Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) BRIN.
Puing yang ditemukan pada Senin telah dipindahkan. "Saat ini sudah dievakuasi ke Lanud Iskandar Pangkalan Bun untuk identifikasi lebih lanjut lagi dan demi keamanan," ujar Zachrudien.
Pada Selasa (20/10), benda logam lain berbentuk menyerupai kubah ditemukan di kawasan perkebunan yang sama. Kabel dan komponen masih menempel pada benda itu, dan lokasi penemuannya telah dipasangi garis polisi.
Belum ada keterangan resmi soal apakah temuan kedua merupakan bagian dari roket yang sama. Pemeriksaan lanjutan di Lanud Iskandar akan menentukan klasifikasi dan penanganan puing tersebut.
Jatuhnya puing roket asing di wilayah Indonesia menambah catatan soal risiko sampah antariksa yang melintasi garis khatulistiwa. Posisi geografis Indonesia berada di bawah jalur peluncuran dan lintasan orbit banyak negara, sehingga potensi serpihan jatuh bukan hal baru.
Koordinasi BRIN, KNKT, dan otoritas penerbangan menjadi jalur utama penanganan. Hasil identifikasi ini jadi rujukan awal sebelum ada klaim resmi atau komunikasi diplomatik dengan pihak China.