SULAWESI TENGAH — Pertamina belum menyesuaikan harga bahan bakar minyak nonsubsidi untuk Oktober 2026, sehingga sejumlah produk seperti Pertamax Turbo dan Dexlite masih dibanderol dengan tarif yang berlaku sejak 2 September 2026. Penahanan harga berlaku di tengah gejolak pasokan BBM di sejumlah daerah, termasuk Bali. Bagi konsumen, harga Pertamax di level Rp15.950 per liter dan Pertalite Rp10.000 per liter tidak berubah.
Paragraf pembuka: Keputusan menahan harga diambil Pertamina dengan mempertimbangkan berbagai faktor dan kondisi masyarakat. Perusahaan pelat merah itu belum merilis penyesuaian anyar untuk periode Oktober 2026, sehingga patokan harga yang dipakai masih merujuk pada penetapan 2 September 2026. Artinya, konsumen di wilayah dengan pajak bahan bakar kendaraan bermotor (PBBKB) 5 persen, termasuk DKI Jakarta dan sekitarnya, masih membayar tarif lama untuk seluruh produk nonsubsidi.
Rincian Harga Nonsubsidi per Liter
Pertamax Turbo untuk wilayah PBBKB 5 persen dibanderol Rp19.600 per liter, naik dari posisi sebelumnya Rp18.300. Pertamax Green 95 dijual Rp19.150 per liter dari sebelumnya Rp16.600.
Untuk kelompok diesel, Dexlite meningkat menjadi Rp23.700 per liter dari sebelumnya Rp19.700. Pertamina Dex melesat ke Rp25.200 per liter dari sebelumnya Rp21.150.
Sementara itu, harga Pertamax tetap di angka Rp15.950 per liter. Angka ini yang paling banyak dicari konsumen karena menjadi produk nonsubsidi dengan pemakaian terbesar di kota-kota besar.
Harga BBM Subsidi Tidak Bergeser
Pertalite tetap Rp10.000 per liter dan Bio Solar di angka Rp6.800 per liter. Dua produk ini menjadi penopang utama angkutan umum, pedagang keliling, dan rumah tangga di luar wilayah yang menikmati penugasan public service obligation (PSO).
Stabilitas harga subsidi penting karena pemerintah belum mengubah parameter penyalurannya. Penyesuaian tarif untuk dua jenis BBM ini biasanya hanya muncul lewat keputusan resmi Kementerian ESDM, bukan lewat mekanisme pasar seperti produk nonsubsidi.
Tekanan Pasokan di Bali Jadi Sorotan
Penahanan harga berlangsung saat pasokan BBM di Bali sempat terganggu. Antrean di sejumlah SPBU dilaporkan mengular hingga 3 kilometer akibat krisis BBM, dan sejumlah warga dikabarkan pingsan saat menunggu. Situasi mulai terurai setelah kebijakan ganjil-genap dan pembatasan pembelian diterapkan.
Krisis di Bali menunjukkan bahwa persoalan BBM bukan sekadar soal angka di papan harga. Distribusi, kapasitas tangki, dan pola konsumsi ikut menentukan apakah pasokan sampai ke konsumen tepat waktu.
Mengapa Harga Ditahan
Pertamina menyebut penyesuaian harga selalu mempertimbangkan kondisi masyarakat, bukan hanya pergerakan harga minyak mentah dan kurs. Formula harga nonsubsidi memang mengikuti tren pasar, tetapi perusahaan diberi ruang untuk tidak mengubah tarif setiap bulan bila dinilai memberatkan konsumen.
Kebijakan menahan harga juga membantu menjaga inflasi pangan dan transportasi. BBM nonsubsidi dipakai armada logistik, sehingga perubahan tarifnya cepat merambat ke harga barang di pasar.
Penutup: Dengan harga yang belum bergerak, konsumen punya kepastian biaya operasional untuk periode Oktober 2026. Namun keputusan berikutnya tetap bergantung pada pergerakan harga minyak global dan nilai tukar rupiah, dua variabel yang selama ini menjadi dasar penyesuaian tarif BBM nonsubsidi Pertamina.