PALU — Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah membuka peluang investasi untuk mendukung pengembangan hilirisasi dan meningkatkan nilai tambah komoditas daerah. Wakil Gubernur Sulteng Reny A Lamadjido mengatakan pemerintah provinsi terbuka terhadap investor yang ingin masuk ke daerah sepanjang kegiatan investasi dilaksanakan sesuai ketentuan yang berlaku.
"Kami welcome kalau ada investor yang mau masuk ke Provinsi Sulawesi Tengah. Kami tidak persulit, yang penting investor bisa melakukan hal-hal yang sesuai dengan aturan," kata Reny A Lamadjido di Palu, Kamis.
Kehadiran investor dinilai dibutuhkan untuk memperkuat pengolahan komoditas daerah. Selama ini, hasil sumber daya alam Sulteng banyak dipasarkan dalam bentuk bahan mentah atau setengah jadi.
Nikel Diminta Diolah Penuh, Bukan Setengah Jadi
Khusus sektor pertambangan, pemerintah mendorong komoditas seperti nikel diolah lebih lanjut. Reny menegaskan ekspor bahan setengah jadi harus dihentikan karena nilai ekonominya jauh lebih rendah dibanding produk jadi.
"Kalau nikel dan lain-lain, kita tidak melakukan lagi ekspor yang setengah jadi. Tapi harus sudah jadi full. Karena kalau dia berada di mulut tambang dan berada di mulut industri, itu berbeda harga," ujarnya.
Pengembangan hilirisasi tidak hanya menyasar sektor pertambangan. Komoditas pertanian, perkebunan, dan perikanan yang memiliki potensi pasar juga masuk dalam cakupan pengembangan.
Durian Sulteng Tembus Pasar Tiongkok Rp 871 Miliar
Salah satu komoditas yang menjadi perhatian adalah durian Sulawesi Tengah. Berdasarkan data BEST TRUST Balai Karantina Indonesia (Barantin), hingga Agustus 2026 ekspor durian Sulteng ke Tiongkok mencapai 8.377 ton dengan nilai sekitar Rp 871 miliar.
Komoditas perikanan juga telah menembus pasar ekspor. Kepiting bakau tercatat 9.438 ekor senilai sekitar Rp 829,4 juta, kerang darah 65.530 kilogram senilai sekitar Rp 1,6 miliar, serta tuna 25.739 kilogram senilai sekitar Rp 2,06 miliar.
Empat Komoditas Unggulan Diolah Jadi Es Krim Nambaso
Pengembangan hilirisasi mulai dilakukan melalui kerja sama antara daerah dan industri. Kadin Indonesia Kabupaten Parigi Moutong menggandeng industri untuk mendukung hilirisasi empat komoditas unggulan, yakni durian, kakao, kelapa, dan kopi.
Empat daerah penghasil komoditas tersebut, yaitu Parigi Moutong, Poso, Sigi, dan Morowali, telah menandatangani nota kesepahaman dengan industri pada kegiatan Perkarantinaan Gerakan 1.000 Pelaku Usaha Ekspor dan UMKM menuju Pasar Global.
Salah satu bentuk pengolahan yang dirancang adalah es krim Nambaso dengan varian rasa durian, kopi, kelapa, dan cokelat. Hilirisasi industri berbasis sumber daya alam sendiri merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk mengoptimalkan kemandirian nasional.