SIGI — Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Tengah Novalina menilai kesiapsiagaan karhutla tidak bisa ditangani satu instansi saja. Karena itu, ia menekankan pentingnya pembagian peran yang jelas antarlembaga agar penanganan di lapangan berjalan cepat dan terkoordinasi.
Pernyataan itu disampaikan Novalina usai mengikuti Latihan Kesiapsiagaan Penanggulangan Bencana (Gulbencal) Karhutla Kodam XXIII/PW Tahun 2026 di Bukit Sibedi, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi, Jumat 23 Oktober 2026.
Novalina memberi apresiasi kepada Pangdam XXIII/PW beserta jajaran atas pelaksanaan latihan tersebut. Menurutnya, kegiatan itu bukan sekadar sarana pembelajaran, tetapi harus bisa diterapkan langsung saat bencana terjadi.
"Ketika terjadi kebakaran, semua pihak harus memahami peran dan fungsinya masing-masing sehingga penanganan dapat dilakukan secara cepat, tepat, dan terkoordinasi," ujarnya.
Penanggulangan karhutla dinilai sebagai tanggung jawab bersama. Novalina menyebut keterlibatan TNI, Polri, pemerintah daerah, tenaga kesehatan, Basarnas, hingga masyarakat menjadi prasyarat agar respons tidak tumpang tindih.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah menyatakan komitmen mendukung kegiatan serupa untuk memperkuat kesiapsiagaan, mencegah kebakaran, dan menjaga kelestarian lingkungan.
Selain kesiapsiagaan, Novalina menekankan pentingnya pencegahan dan penegakan hukum terhadap pelaku pembakaran hutan dan lahan. Proses hukum diminta mengikuti ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
"Melalui latihan ini, kita berharap koordinasi dan sinergi seluruh pihak semakin kuat, sehingga risiko kebakaran dapat diminimalkan dan penanganan di lapangan berjalan lebih efektif," harapnya.
Kegiatan di Bukit Sibedi turut dihadiri unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran TNI dan Polri, masyarakat, serta pemangku kepentingan lainnya. Kehadiran lintas instansi itu menjadi gambaran awal dari sinergi yang diminta Sekdaprov diterapkan saat penanganan darurat.