Tojo Una-Una Masuki Usia 23 Tahun, Warga Diminta Menakar Warisan Pembangunan Bukan Hanya Perayaan

Penulis: Joko Purnomo  •  Minggu, 18 Oktober 2026 | 16:01:01 WIB
Warga Tojo Una-Una diminta menjadikan momentum HUT ke-23 sebagai ruang menilai warisan pembangunan selama 22 tahun.

TOJO UNA-UNA — Menjelang Hari Ulang Tahun ke-23 Kabupaten Tojo Una-Una, perayaan berupa seremoni, spanduk, dan pidato kebanggaan dinilai belum cukup. Momentum bertambahnya usia daerah di Sulawesi Tengah itu diminta dijadikan ruang bercermin untuk menilai secara jujur apa yang telah diwariskan kepada rakyat selama 22 tahun berdiri.

Pertanyaan yang diajukan bukan soal panjangnya usia kabupaten, melainkan apakah kesejahteraan semakin merata, infrastruktur menjangkau pelosok desa, serta pendidikan dan layanan kesehatan semakin baik. Termasuk apakah lapangan kerja bagi generasi muda benar-benar tersedia.

Dua Dekade Lebih, Janji yang Diperbarui Setiap Pergantian Kepemimpinan

Dua puluh dua tahun bukan waktu singkat. Rentang itu dinilai semestinya cukup untuk menghadirkan perubahan yang bisa dirasakan, bukan hanya janji yang diperbarui setiap kali kepemimpinan berganti.

Rakyat, menurut pandangan ini, tidak membutuhkan kata-kata manis yang hanya terdengar menjelang perayaan. Yang dibutuhkan adalah bukti sederhana yang bisa dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Potensi Laut hingga Pariwisata Belum Sepenuhnya Menjadi Kesejahteraan

Tojo Una-Una menyimpan potensi besar di sektor kelautan, perikanan, pertanian, perkebunan, pariwisata, dan ekonomi kerakyatan. Namun potensi itu dinilai belum sepenuhnya menjadi sumber kesejahteraan bagi warga.

Pertanyaan yang muncul: apa arti pembangunan jika masih ada masyarakat yang merasa jauh dari perhatian? Apa arti kemajuan jika potensi besar itu belum terkelola optimal? Dan apa arti bertambahnya usia kabupaten jika harapan generasi mudanya justru semakin jauh dari kampung halaman sendiri?

Mencintai Daerah Berarti Berani Mengingatkan

Pertanyaan-pertanyaan itu ditegaskan bukan bentuk kebencian terhadap daerah, apalagi keinginan menjatuhkan pihak tertentu. Justru karena mencintai Tojo Una-Una, warga diminta tidak berhenti bertanya.

Mencintai daerah bukan berarti selalu memuji. Mencintai daerah juga berarti berani mengingatkan dengan cara yang baik ketika ada hal yang perlu dibenahi bersama.

Yang dikhawatirkan adalah jika 22 tahun perjalanan hanya mewariskan tumpukan janji, proyek yang belum menjawab kebutuhan rakyat, dan persoalan yang berpindah dari satu periode ke periode berikutnya.

Fondasi Pembangunan hingga Keadilan Pelayanan Jadi Prioritas

Yang semestinya diwariskan adalah fondasi pembangunan yang kuat, pemerintahan yang berpihak kepada masyarakat, keadilan dalam pelayanan, serta masa depan yang lebih baik bagi anak cucu.

Keberhasilan sebuah kabupaten, menurut pandangan ini, bukan diukur dari meriahnya perayaan ulang tahun. Bukan pula dari panjangnya daftar pencapaian dalam pidato. Keberhasilan itu terlihat dari kenyataan di desa-desa, di ruang kelas, di puskesmas, di jalan-jalan, di tempat usaha rakyat, dan dalam kehidupan masyarakat kecil.

Harapan untuk Pemerintahan ke Depan

Ke depan, pemerintah daerah diharapkan tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik dan pencapaian administratif. Setiap kebijakan dan program diminta benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat, terutama mereka yang berada di pelosok dan masih jauh dari akses pelayanan dasar.

Pendidikan berkualitas, pelayanan kesehatan merata, infrastruktur memadai, serta pemerintahan yang transparan dan bertanggung jawab dinilai harus menjadi prioritas utama dalam perjalanan pembangunan ke depan.

Selamat menjelang HUT ke-23 Kabupaten Tojo Una-Una. Usia yang bertambah diharapkan diiringi harapan yang semakin nyata bagi rakyatnya.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: rakyatbersuara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top