Budayawan Kaili Suaib Djafar Ajak Warga Palu dan Sigi Jaga Bahasa Kaili: "Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?"

Penulis: Hendra Wijaya  •  Minggu, 04 Oktober 2026 | 08:31:01 WIB
Budayawan Kaili Suaib Djafar menyerukan pelestarian Bahasa Kaili kepada masyarakat Palu dan Sigi.

PALU — Maestro Budayawan Kaili Sulawesi Tengah Dr. H. Suaib Djafar, M.Si menyampaikan seruan pelestarian Bahasa Kaili melalui ungkapan "Nemo Rapakalipo Basa Kaili, Ane Ledo Kita Isemavai." Seruan itu ia tujukan kepada seluruh masyarakat Kaili, khususnya generasi muda, agar mencintai, menggunakan, dan mengembangkan Bahasa Kaili sebagai bagian dari identitas dan jati diri.

Menurut Suaib, Bahasa Kaili bukan sekadar alat komunikasi. Bahasa itu menyimpan nilai-nilai budaya, sejarah, adat istiadat, ungkapan kebijaksanaan, serta pandangan hidup masyarakat Kaili yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Mengapa Bahasa Kaili Penting Dipertahankan?

Di dalam bahasa terdapat makna, dan di dalam makna terkandung nilai-nilai kehidupan. Suaib menilai kekayaan itu hanya bisa bertahan jika penuturnya terus memakai Bahasa Kaili dalam kehidupan sehari-hari.

Ungkapan "Nemo Rapakalipo Basa Kaili" mengandung pesan agar Bahasa Kaili tidak hilang karena ditinggalkan penuturnya. Pelestariannya bisa dimulai dari langkah sederhana di rumah, lingkungan masyarakat, kegiatan budaya, pendidikan, seni, hingga ruang digital.

Kalau Bukan Kita, Siapa Lagi?

Frasa "Ane Ledo Kita Isemavai" yang berarti "kalau bukan kita, siapa lagi?" menegaskan tanggung jawab kolektif. Suaib menyebut pelestarian Bahasa Kaili bukan hanya tugas pemerintah, lembaga adat, budayawan, atau guru.

Seluruh masyarakat Kaili, menurutnya, memikul tanggung jawab yang sama. Tanpa keterlibatan warga, upaya menjaga bahasa warisan leluhur itu akan berjalan setengah hati.

Bahasa Kaili Bukan Bahasa Masa Lalu

Generasi muda diminta menempatkan Bahasa Kaili bukan sebagai bahasa masa lalu. Bahasa ini dinilai bisa hidup berdampingan dengan perkembangan zaman.

Bahasa Kaili dapat dipakai untuk bertutur, berpidato, bernyanyi, berkarya, membuat konten kreatif, bercerita, hingga berkomunikasi di ruang digital. Suaib menyebut ruang digital justru membuka peluang baru bagi bahasa daerah untuk tetap terdengar.

Lima Langkah dalam Gerakan Bersama

Suaib mengajak masyarakat membangun gerakan bersama pelestarian Bahasa Kaili melalui lima langkah sederhana:

  • Bicara Bahasa Kaili
  • Bangga Bahasa Kaili
  • Belajar Bahasa Kaili
  • Berkarya dengan Bahasa Kaili
  • Wariskan Bahasa Kaili kepada generasi berikutnya

Baginya, bahasa adalah identitas, warisan, sekaligus jembatan antargenerasi. Menjaga Bahasa Kaili berarti menjaga jati diri dan masa depan kebudayaan Kaili.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: dteksinews.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top