Bill Gates Peringatkan AI Tanpa Regulasi Bisa Bunuh 1 Miliar Orang

Penulis: Joko Purnomo  •  Senin, 28 September 2026 | 13:35:01 WIB
Bill Gates memperingatkan AI tanpa regulasi berpotensi memicu kematian massal.

SULAWESI TENGAH — Bill Gates memperingatkan kecerdasan buatan yang dibiarkan tanpa pengawasan bisa memicu kematian hingga satu miliar manusia. Pendiri Microsoft itu mendesak pemerintah Amerika Serikat segera menyusun aturan pengamanan AI, karena regulasi mandiri perusahaan dinilai tidak memadai. Peringatan ini muncul di tengah dorongan sejumlah tokoh teknologi agar laju pengembangan AI diperlambat.

Bill Gates menilai kombinasi antara niat jahat manusia dan alat AI terbaru menghasilkan kekuatan yang belum pernah ada sebelumnya. Pernyataan itu disampaikannya dalam wawancara dengan NBC yang dikutip The Guardian, Senin (28/9). Gates menegaskan bahwa tanpa kendali yang jelas, teknologi ini bisa memicu rentetan kejadian berujung pada kematian massal.

Mengapa Regulasi Mandiri Perusahaan Dinilai Tidak Cukup

Menurut Gates, aturan yang dibuat perusahaan teknologi sendiri tidak akan mampu menahan risiko terburuk dari AI. Ia menilai penegak hukum dan politisi harus masuk ke dalam diskusi tentang bentuk pengamanan dan pengawasan teknologi tersebut.

"Anda membutuhkan penegak hukum dan politisi untuk ikut serta dalam diskusi tentang seperti apa bentuk pengamanan dan pengawasan, dan itu harus menjadi pernyataan wajib," kata Gates.

Ia mengakui regulasi keamanan AI akan menambah beban biaya operasional dan urusan administratif bagi industri. Meski begitu, Gates yakin aturan tersebut tidak akan menghentikan inovasi secara drastis.

"Ini (regulasi) mungkin akan sedikit menambah beban biaya operasional bagi industri, tapi tidak akan sampai memperlambat laju pekerjaan mereka secara drastis," ujarnya.

Soal Tombol Darurat AI yang Disebut Kill Switch

Gates juga menanggapi wacana pembuatan tombol darurat atau kill switch untuk mematikan AI yang dianggap berbahaya. Ia menilai langkah tersebut tidak cukup untuk menangani risiko yang mungkin muncul.

"Punya tombol darurat saja tidak cukup. Kita belum sampai di titik di mana, AI secara mandiri mengambil alih komputer dan tidak bisa dimatikan. Jadi, orang-orang yang meributkan soal itu, malah menunjukkan betapa tidak pahamnya mereka soal hal-hal teknis," jelasnya.

Di sisi lain, Gates tetap optimistis terhadap masa depan umat manusia. Optimisme itu tidak menghapus kekhawatirannya soal perlunya pengawasan ketat pada pengembangan AI tingkat lanjut.

Gates Tidak Pakai AI untuk Urusan Pribadi

Dalam wawancara yang sama, Gates ditanya apakah ada hal yang membuatnya menghindari AI, baik di kehidupan pribadi maupun profesional. Ia mengaku tidak memakai AI untuk urusan personal.

Gates beralasan merasa beruntung memiliki keluarga dan teman-teman di sekitarnya, sehingga tidak perlu mencari dukungan dari kecerdasan buatan.

"Ya, saya tidak menggunakannya untuk hubungan pribadi. Saya tidak pernah bertanya, 'Hei, kamu suka saya? Apakah saya orang yang baik?'" jelas Gates.

"Jadi, saya tidak pernah ke arah sana. Saya beruntung dengan keluarga, teman, dan semuanya. Saya tidak bersosialisasi dengan AI. AI tahu kalau saya orang yang sangat serius," tambahnya.

Tekanan ke Microsoft dan Seruan Perlambat AI

Wawancara ini muncul setelah Gates menerbitkan esai panjang pada akhir Agustus yang membahas bahaya AI berskala besar bagi manusia. Sejumlah bos perusahaan pengembang AI di AS seperti Sam Altman dan Elon Musk juga menyerukan agar laju pengembangan AI diperlambat.

Beberapa pakar berteori AI bisa memicu kehancuran massal lewat senjata biologis dan perang nuklir. Senator AS Bernie Sanders bahkan sempat mengusulkan undang-undang untuk memberhentikan sementara pengembangan AI tingkat lanjut sampai batas-batasannya disiapkan.

Microsoft turut menjadi sasaran kritik karena dianggap berperan memicu ketakutan soal masa depan AI. Karyawan perusahaan dan aktivis mengorganisir kampanye agar Microsoft memutus hubungan dengan militer Israel. Berdasarkan esai yang diterbitkan The Guardian, militer Israel bersama pasukan AS disebut menggunakan alat AI untuk membunuh masyarakat di Gaza dan Iran.

Reporter: Joko Purnomo
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top