221,43 Hektare Lahan di Parigi Moutong Terbakar Sepanjang 2026, BPBD Tetapkan Siaga Darurat Karhutla

Penulis: Irfan Hakim  •  Jumat, 11 September 2026 | 06:01:01 WIB
Lahan terbakar di Parigi Moutong mencapai 221,43 hektare sejak Januari hingga 9 September 2026.

PARIGI — Plt Kepala BPBD Parigi Moutong Moh Rivai menyatakan pihaknya menetapkan status siaga darurat karhutla dan kekeringan menyusul tren eskalasi kebakaran yang terus naik. Penetapan itu diambil Pemkab Parimo setelah data menunjukkan luas lahan terbakar mencapai 221,43 hektare.

Selain karhutla, kemarau panjang turut memicu kekeringan di sejumlah wilayah. BPBD mencatat sekitar 1.635,5 hektare lahan terdampak kekeringan di lima kecamatan, yakni Parigi, Mepanga, Bolano, Tomini, dan Ongka Malino.

El Nino Jadi Pemicu Utama Karhutla di Parimo

Rivai menyebut karhutla menjadi bencana paling masif yang melanda Parimo saat ini akibat fenomena El Nino. Luas 221,43 hektare lahan yang terbakar tersebar di 16 kecamatan.

"Catatan itu akumulasi peristiwa sejak Januari hingga 9 September 2026," kata Rivai di Parigi, Kamis.

Menurutnya, langkah pencegahan perlu diutamakan agar kondisi tidak memburuk. Ia menekankan pentingnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan di tengah ancaman bencana.

"Langkah yang dapat dilakukan saat ini pencegahan supaya tidak terjadi kondisi yang lebih buruk dengan membangun kesadaran masyarakat peduli terhadap lingkungan atas ancaman bencana, selain penanganan pengendalian karhutla," ujarnya.

850 KK Terdampak, Air Bersih Disuplai 8.000 Liter per Hari

Krisis air bersih menjadi dampak langsung yang dirasakan warga. Sedikitnya 850 kepala keluarga (KK) terdampak kekeringan di lima kecamatan tersebut.

BPBD bersama tim gabungan mengoperasikan posko siaga darurat. Pasokan air bersih dikirim ke Desa Bolano Barot, Kecamatan Bolano, dengan rata-rata 8.000 liter per hari menggunakan mobil tanki.

"Khusus krisis air bersih, kami menyuplai menggunakan mobil tanki ke wilayah-wilayah terdampak. Selain itu kami juga mengusulkan bantuan kepada pemerintah pusat pengadaan sumur bor, mesin alkon, dan pompa air untuk mengairi lahan pertanian warga terdampak," tutur Rivai.

Mitigasi Diminta Jadi Prioritas Warga

Rivai meminta warga meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat. Mitigasi, katanya, merupakan bagian yang tidak terpisahkan dalam mewaspadai potensi ancaman bencana alam maupun nonalam.

BPBD masih bersiaga di posko darurat bersama tim gabungan. Distribusi air bersih ke wilayah terdampak kekeringan berlanjut selama kemarau belum berakhir.

Reporter: Irfan Hakim
Sumber: sulteng.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top