MOROWALI — Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Tbk Bernardus Irmanto menyatakan bahwa volume penjualan itu mencerminkan dedikasi dan kolaborasi perusahaan dalam mendukung pertumbuhan secara bertanggung jawab. "Penjualan lebih dari dua juta ton bijih nikel menjadi tonggak penting bagi perusahaan pertambangan dan pengolahan nikel terintegrasi," kata Bernardus di Kabupaten Morowali, Senin.
Di luar angka penjualan, perusahaan yang tergabung dalam Mineral Industri Indonesia—holding industri pertambangan milik negara—juga meresmikan pevalea dormitory. Fasilitas ini disebut sebagai investasi untuk kesejahteraan karyawan. Bernardus menambahkan, kehadiran dormitory itu menjadi simbol komitmen perusahaan dalam meningkatkan kualitas hidup karyawan sekaligus memperkuat budaya kerja yang produktif dan berkelanjutan.
Vale Indonesia juga baru saja mendatangkan autoclave, peralatan utama untuk proyek High Pressure Acid Leaching (HPAL) Sambalagi. Alat tersebut merupakan bagian dari pembangunan fasilitas pengolahan nikel berkarbon rendah dalam kerangka Indonesia Growth Project (IGP) Morowali yang berstatus proyek strategis nasional (PSN).
Menurut Bernardus, kedatangan autoclave merepresentasikan transformasi industri pertambangan Indonesia menuju hilirisasi yang menghasilkan nilai tambah lebih tinggi. Dengan teknologi HPAL, bijih limonit yang sebelumnya bernilai ekonomi terbatas dapat diolah menjadi mixed hydroxide precipitate (MHP).
MHP merupakan bahan baku utama industri baterai kendaraan listrik. "Artinya, PT Vale tidak hanya memperkuat rantai pasok global kendaraan listrik, tetapi juga berkontribusi pada agenda transisi energi dan ekonomi rendah karbon Indonesia," ujar Bernardus.
Langkah ini mempertegas posisi Vale Indonesia dalam strategi hilirisasi nasional yang digencarkan pemerintah. Dengan integrasi dari hulu ke hilir, perusahaan tidak hanya mengejar volume penjualan bijih nikel, tetapi juga membangun ekosistem pengolahan yang bernilai tambah tinggi.