SULAWESI TENGAH — Sepuluh ekor Rusa Timor yang dilepasliarkan merupakan generasi keempat dari hasil program pembiakan di Taman Hutan Kampus IPB Dramaga. Sebelum dikembalikan ke alam, seluruh rusa menjalani proses ketat: penilaian kondisi individu, survei kesesuaian habitat, hingga habituasi selama dua minggu di kandang adaptasi di lokasi pelepasliaran. Tahapan ini bertujuan memastikan satwa mampu bertahan di lingkungan alaminya.
Kawasan Margasatwa Cikepuh dinilai ideal karena habitat alaminya masih terjaga, ketersediaan pakan melimpah, dan tutupan vegetasi yang mendukung kehidupan Rusa Timor. Lokasi ini juga menjadi rumah bagi berbagai satwa liar lain, sehingga memenuhi aspek ekologis sebagai tempat reintroduksi.
Rusa Timor sendiri berstatus Vulnerable (Rentan) dalam daftar merah IUCN. Spesies ini memiliki peran krusial dalam ekosistem, terutama dalam penyebaran biji dan regenerasi hutan. Tanpa upaya konservasi berkelanjutan, populasinya terancam terus menurun.
Pelepasliaran ini melibatkan Universitas IPB, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat, Pemerintah Desa setempat, dan berbagai pemangku kepentingan lain. Direktur UT, Ari Sutrisno, menegaskan bahwa pelestarian keanekaragaman hayati merupakan bagian integral dari praktik bisnis berkelanjutan perusahaan.
"Melalui program UTREES, kami berupaya memberikan kontribusi nyata terhadap pelestarian satwa endemik Indonesia sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Kolaborasi bersama IPB University dan para pemangku kepentingan menjadi bukti bahwa sinergi multipihak dapat memberikan dampak positif bagi lingkungan dan keberlanjutan di masa depan," ujar Ari dalam keterangan resmi.
Selain manfaat ekologis, program ini turut memperkuat aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) perusahaan. UT berkomitmen menghadirkan inisiatif-inisiatif yang memberi manfaat nyata bagi lingkungan dan masyarakat, sembari memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
Keberhasilan penangkaran Rusa Timor ini menjadi bukti bahwa program konservasi yang terstruktur dan melibatkan riset akademik mampu menghasilkan dampak terukur. Dari hanya 8 indukan, populasi kini mencapai 43 ekor, dan 10 di antaranya telah siap kembali ke habitat asli.