SULAWESI TENGAH — Dalam dua pekan terakhir, saham PT Barito Pacific Tbk (BRPT) tercatat melonjak lebih dari 36%. Kenaikan ini diiringi oleh arus masuk dana asing yang cukup signifikan ke saham emiten energi tersebut. Pergerakan BRPT turut mendorong sektor energi dan komoditas yang menjadi salah satu penopang utama rebound IHSG.
Analis menilai lonjakan harga komoditas global dan ekspektasi pemulihan ekonomi menjadi pemicu aksi beli di saham-saham siklikal. Namun, investor tetap diminta mencermati risiko pelemahan nilai tukar rupiah yang bisa menghambat laju penguatan lebih lanjut.
Keputusan S&P Global Ratings yang mempertahankan peringkat utang Indonesia menjadi sentimen positif bagi pasar modal. Langkah ini memperkuat kepercayaan investor asing terhadap fundamental ekonomi Indonesia di tengah tekanan pandemi.
Meski demikian, tekanan terhadap rupiah masih menjadi perhatian utama. Pelemahan kurs dapat mengurangi daya tarik investasi portofolio dan membebani pergerakan IHSG dalam jangka pendek. Pelaku pasar disarankan untuk memantau pergerakan dolar AS dan kebijakan moneter global.
Dalam jangka panjang, kinerja emiten tidak hanya ditentukan oleh momentum pasar, tetapi juga kemampuan meningkatkan volume penjualan sekaligus mempertahankan daya tawar harga (pricing power). Investor perlu selektif memilih saham dengan fundamental kokoh dan prospek bisnis yang jelas.
Sementara itu, Bursa Efek Indonesia (BEI) tengah menyesuaikan ketentuan harga rights issue untuk Papan Akselerasi dan Papan Pemantauan Khusus (PPK). Perubahan mekanisme harga ini menjadi kunci untuk memberikan fleksibilitas lebih bagi emiten dalam melakukan aksi korporasi.
Di sektor lain, rumah sakit dengan dominasi pasien mandiri maupun asuransi swasta dinilai masih memiliki fleksibilitas untuk menyesuaikan tarif secara bertahap. Hal ini menjadi pertimbangan bagi investor yang melirik saham sektor kesehatan.
Investasi mengandung risiko.