SULAWESI TENGAH — Sebanyak 130 siswa Wood Block Music & Art School tampil dalam Musician's Showcase 2026 di Jakarta Design Center, Minggu (18/10/2026). Mengusung tema "A Musical Time Capsule", konser ini membawa nostalgia pop era 1970-an hingga 1990-an sekaligus menjadi ajang unjuk kemajuan belajar anak di depan orang tua.
Wood Block Music & Art School menggelar Musician's Showcase 2026 di Flamboyan Room, Jakarta Design Center. Acara ini dihadiri lebih dari 500 orang, terdiri dari para penampil, orang tua siswa, perwakilan sponsor, dan tamu undangan.
Enam sesi penampilan berlangsung sepanjang hari. Siswa dari berbagai tingkat kemampuan membawakan lagu solo, duet, hingga ansambel bersama.
Lagu-lagu pop era 1970-an, 1980-an, dan 1990-an dipilih sebagai materi utama konser. Musik yang akrab bagi generasi orang tua itu diperkenalkan kembali lewat penampilan anak-anak mereka.
Format ini membuka ruang nostalgia bagi orang tua sekaligus menciptakan kenangan baru bagi keluarga. Anak tidak sekadar menghafal lagu, tetapi belajar memahami karakter musik dari zaman sebelum mereka lahir.
Musician's Showcase bukan acara sekali setahun yang berdiri sendiri. Konser ini menjadi penghubung antara latihan di kelas dan pengalaman tampil di depan penonton sungguhan.
"Kami ingin setiap siswa memiliki kesempatan untuk membagikan musik yang sudah mereka pelajari. Melalui pengalaman tampil secara rutin, mereka belajar mengekspresikan diri dan merasakan kemajuan dari latihan yang mereka jalani," ujar Founder & Principal Educator Wood Block Music & Art School, Dionisius Clyde.
Wood Block menjadwalkan dua konser siswa dan dua penampilan di mal setiap tahun. Siswa juga dilibatkan dalam festival keluarga dan kegiatan komunitas untuk melatih kemampuan menyesuaikan diri dengan audiens yang berbeda.
Menuju konser, Wood Block menggelar Performance Class pada 4 Oktober 2026 di Studio Green Ville. Siswa berlatih membawakan repertoar sesuai alur konser, mempelajari tata cara tampil di panggung, dan menerima masukan dari para guru.
Pada hari konser, Nathan Iskandar, M.Mus., komposer dan pendidik musik, hadir sebagai penilai penampilan peserta. Kehadiran penilai eksternal memberi siswa pengalaman menghadapi standar penilaian di luar kelas.
"Pengalaman konser perlu dipersiapkan dengan perhatian yang sama seperti proses belajar di kelas. Kami ingin siswa bisa fokus pada penampilannya dan keluarga merasa nyaman saat mendampingi," ujar Chief Operating Officer Wood Block Music & Art School, Agustinus Buntoro.
Selain penampilan individu, rangkaian acara menampilkan ansambel Luminous Beats dan Woodies Symphony. Bermain bersama dalam ansambel melatih siswa mendengarkan satu sama lain dan membangun kekompakan.
Penghargaan Best Costume turut menambah kemeriahan. Peserta mengekspresikan karakter lagu atau nuansa era musik lewat kostum, lalu penonton memilih favorit melalui pemungutan suara. Satu pemenang dipilih di setiap sesi, dengan total enam pemenang menerima sertifikat dan hadiah dari mitra pendukung.
"Lagu yang dulu akrab bagi orang tua mendapat cerita baru ketika dibawakan oleh para siswa. Melalui A Musical Time Capsule, kami ingin musik menjadi pengalaman yang bisa dinikmati bersama oleh keluarga," ujar Chief Marketing Officer Wood Block Music & Art School, Dennis Kurnia Gunawan.
Pengalaman Wood Block menunjukkan bahwa panggung bukan tujuan akhir, melainkan bagian dari proses belajar. Anak yang terbiasa tampil sejak dini cenderung lebih percaya diri menghadapi situasi baru.
Persiapan bertahap lewat kelas performa juga membantu anak mengenal ritme tampil, mengurangi rasa gugup, dan memahami bahwa latihan berulang menghasilkan kemajuan nyata. Dukungan orang tua di kursi penonton menjadi bagian penting dari proses itu.
Bagi anak yang sedang belajar musik, kesempatan tampil di depan keluarga dan teman bisa menjadi pengalaman pertama yang membekas. Bukan soal sempurna atau tidak, tetapi soal berani naik ke panggung dan menyelesaikan apa yang sudah dilatih.