IHSG Diprediksi Uji 6.300-6.350, Harga Minyak Turun Jadi Penahan Pelemahan

Penulis: Hendra Wijaya  •  Selasa, 22 September 2026 | 08:34:31 WIB
IHSG diprediksi menguji level 6.300-6.350 pada perdagangan hari ini.

SULAWESI TENGAH — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprakirakan menguat terbatas pada perdagangan hari ini setelah ditutup melemah 0,88 persen ke level 6.384,73 pada Senin. Turunnya harga minyak mentah dan penguatan bursa global dinilai berpotensi menahan tekanan jual lebih lanjut, meski aliran modal asing masih keluar.

Tim Analis Phintraco Sekuritas menyebut IHSG akan menguji level 6.300-6.350 pada sesi hari ini. Proyeksi itu muncul setelah indeks acuan bursa domestik tertekan tanpa katalis positif yang berarti pada perdagangan sebelumnya.

Pelemahan IHSG pada Senin disertai aksi jual investor asing senilai Rp503,12 miliar. Sejumlah saham berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama, mulai dari BMRI, ANTM, BBCA, TLKM, hingga MDKA.

Harga Minyak dan Bursa Global Jadi Penopang

Harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 4,5 persen ke level USD95 per barel. Sementara Brent melemah lebih dari 3 persen ke posisi USD100 per barel.

Penurunan harga minyak biasanya meredakan kekhawatiran pasar terhadap tekanan inflasi global. Kondisi itu memberi ruang bagi investor untuk kembali masuk ke aset berisiko, termasuk saham di pasar berkembang.

"Hari ini IHSG akan menguji level 6.300-6.350. Turunnya harga minyak dan penguatan pada indeks bursa global berpotensi membatasi pelemahan IHSG," kata Tim Analis Phintraco Sekuritas.

BEI Ubah Batas Harga Terendah dan Aturan Auto Rejection

Bursa Efek Indonesia (BEI) menyesuaikan ketentuan batasan harga terendah minimum dan aturan auto rejection untuk efek bersifat ekuitas dan Dana Investasi Infrastruktur (DINFRA). Perubahan ini berlaku baik di Pasar Reguler maupun Pasar Tunai.

Batas harga terendah saham berubah dari semula Rp50 menjadi Rp1 mulai 28 September 2026. Penyesuaian tersebut diikuti perubahan ketentuan Auto Rejection Atas (ARA) dan Auto Rejection Bawah (ARB).

Phintraco menilai kebijakan ini positif karena dapat meningkatkan likuiditas pasar dan mengoptimalkan mekanisme pembentukan harga yang wajar (price discovery).

Peluang dan Risiko bagi Investor Ritel

Aturan harga minimum Rp1 membuka jalan keluar bagi investor yang modalnya terjebak di saham dengan ARB pada level Rp50 dalam waktu lama. Selama ini posisi tersebut sulit dicairkan karena saham terus menempel batas bawah.

"Selain itu, akan membuka jalan keluar bagi investor yang modalnya terjebak di saham yang ARB pada level Rp50 dalam waktu lama," ujar Tim Phintraco.

Namun, ada sisi negatif yang perlu dicermati. Risiko kerugian modal (capital loss) bisa membesar, sementara volatilitas akibat spekulasi berpotensi tinggi, terutama pada saham di bawah harga Rp50 per lembar.

"Para investor pemula juga berpotensi masuk dalam jebakan ilusi harga murah," kata Tim Phintraco.

Sentimen Asing Masih Jadi Penentu Arah

Aliran keluar modal asing senilai Rp503,12 miliar pada Senin menunjukkan tekanan jual masih membayangi pasar. Investor asing tercatat paling banyak melepas saham perbankan dan komoditas.

Pergerakan IHSG hari ini akan bergantung pada respons pasar terhadap penurunan harga minyak dan penguatan bursa global. Jika sentimen eksternal berlanjut positif, tekanan jual asing berpotensi mereda dan indeks bisa bertahan di atas level 6.300.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: rri.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top