Krisis Komponen Dorong Apple dan Microsoft Pangkas Fitur Boros RAM Demi Efisiensi

Penulis: Gunawan Susilo  •  Kamis, 18 Juni 2026 | 02:00:31 WIB
Apple dan Microsoft memangkas fitur boros RAM untuk efisiensi di tengah krisis komponen.

Setelah bertahun-tahun membanjiri pengguna dengan fitur baru yang menuntut spesifikasi tinggi, raksasa teknologi kini tak punya pilihan. Mereka harus melakukan apa yang seharusnya sudah lama dilakukan: menulis ulang kode, mengoptimalkan sistem, dan memangkas fitur yang tidak efisien. Bukan karena kesadaran, melainkan karena harga komponen yang "meledak" dan diperkirakan bertahan hingga 2027.

Bukan Lagi Soal Menambah Fitur, Tapi Membuat yang Ada Tetap Jalan

Artikel analitis dari Thurrott.com menyebut situasi ini sebagai "sekuntum bunga di tengah tumpukan kotoran". Alih-alih terus menambah fitur baru yang boros memori, para pengembang platform kini dipaksa melakukan optimasi besar-besaran. Mereka mengurangi penggunaan sumber daya, memperbaiki kualitas kode, dan memastikan sistem berjalan baik dengan RAM 16 GB yang kini jadi standar minimum.

"Yang terjadi adalah keajaiban ketika Anda sebagai pembuat platform dibatasi oleh sumber daya yang tersedia," tulis analis Paul Thurrott. "Kita tidak akan menemukan ketahanan ketika punya sumber daya tak terbatas."

Dari 4 GB ke 16 GB: Lompatan yang Dipaksa Keadaan

Microsoft dan Apple baru saja menetapkan 16 GB sebagai RAM standar untuk PC dan Mac—sebuah lompatan besar dari standar 4 GB yang bertahan bertahun-tahun. Namun, justru ketika standar baru ini mulai diterapkan, krisis komponen menghantam. Akibatnya, vendor perangkat keras harus menaikkan harga jual ke konsumen, dan volume penjualan PC serta ponsel diprediksi turun drastis tahun ini.

Pelajaran dari Sejarah: NeXT dan VIC-20 Jadi Contoh

Thurrott membandingkan situasi ini dengan kegagalan NeXT, perusahaan Steve Jobs yang bangkrut karena pemborosan dana pada pabrik mewah dan kantor megah. Jobs baru belajar efisiensi setelah kembali ke Apple dalam kondisi "dihina kekalahan".

Contoh lain adalah Commodore VIC-20 tahun 1980. Untuk menekan harga jual hingga sepertiga dari kompetitor, Commodore memangkas RAM menjadi hanya 5 KB dan layar 22 kolom—angka yang sangat terbatas. Keputusan itu dipaksa oleh pasar, sama seperti sekarang.

Dampak untuk Pengguna Indonesia: Harga Naik, Fitur Dipangkas

Bagi pengguna di Indonesia, krisis ini berarti harga laptop dan ponsel baru akan terus merangkak naik dalam dua tahun ke depan. Di sisi lain, pengguna perangkat lama mungkin justru diuntungkan: pembaruan sistem operasi ke depan kemungkinan besar tidak akan menuntut spesifikasi setinggi sebelumnya, karena para pengembang kini fokus pada efisiensi.

Ini adalah ironi yang pahit. Krisis komponen global memaksa inovasi sejati—bukan dari visi besar, melainkan dari keterbatasan. Seperti kata pepatah, kebutuhan adalah ibu dari penemuan.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: thurrott.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top