MOROWALI — Peta Bahodopi yang tergantung di kantor kecamatan masih memperlihatkan wilayah itu sebagai hamparan ilalang dan pepohonan, dengan kampung-kampung kecil yang dihubungkan garis putus-putus. Kanvas itu tidak pernah diperbarui sejak 2009. Dari jendela ruangan yang sama, pemandangan sudah berganti total: pabrik peleburan berdiri sejajar, jalan beraspal mulus, dan truk material melintas bergantian dengan motor pekerja yang berganti sif.
Dokumen di dinding kantor kecamatan itu kini hanya catatan sejarah. Selama 13 tahun, kawasan industri PT IMIP mengubah lanskap Bahodopi dari kecamatan kecil yang jarang disebut menjadi pusat hilirisasi nikel nasional.
Dari Bijih Mentah ke Produk Jadi
IMIP berdiri sebagai salah satu proyek yang lahir dari kebijakan hilirisasi nikel. Taruhan besarnya: Indonesia berhenti mengekspor bijih mentah dan mengolahnya sendiri hingga menjadi produk jadi.
Di kawasan ini ada tiga klaster yang menggerakkan roda produksi. Klaster stainless steel mengolah bijih nikel menjadi NPI hingga produk akhir berupa slab, HRC, dan CRC. Klaster carbon steel memproduksi baja karbon untuk sektor konstruksi dan perkakas.
Klaster ketiga adalah komponen bahan baku baterai, yang mengolah elemen katoda dan anoda untuk baterai litium-ion. Kawasan ini juga ditopang PLTU dan PLTS, pabrik bahan kimia pendukung seperti silikon, mangan, kapur, dan kokas, serta fasilitas pelabuhan dan bandara khusus.
100.310 Pekerja dan Perputaran Rp5,9 Triliun
Data HR Department PT IMIP mencatat pertumbuhan tenaga kerja yang masif. Pada 2020 jumlah pekerja 35.592 orang, naik menjadi 51.542 orang pada 2021, lalu 68.466 orang pada 2022 dan 74.350 orang pada 2023.
Tahun 2024 jumlahnya sekitar 83.000 orang, kemudian 86.804 orang pada 2025. Hingga September 2026, kawasan ini mempekerjakan 100.310 orang, terdiri dari 91.904 karyawan laki-laki dan 8.406 karyawan perempuan.
Dengan populasi pekerja sebesar itu, perputaran uang di Bahodopi ikut membengkak. Pada 2025, saat pekerja mencapai 86.804 orang, estimasi perputaran uang di wilayah tersebut mencapai Rp499,1 miliar per bulan atau setara Rp5,9 triliun per tahun.
Angka itu bukan sekadar statistik. Kebutuhan harian ribuan pekerja tidak bisa dipenuhi kawasan industri sendirian, sehingga membuka ruang bagi usaha warga sekitar.
Lima Jenis UMKM Terbanyak di Bahodopi
Head of Media Department PT IMIP, Dedy Kurniawan, menyebut pertumbuhan kawasan mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang. Riset mencatat lima jenis UMKM terbanyak di wilayah itu.
- Kios Pertamini: 981 unit
- Stan Minuman: 735 unit
- Stan Makanan non-bangunan: 670 unit
- Kios Umum: 648 unit
- Warung Makan: 591 unit
Sebagian besar UMKM berada pada kategori usaha mikro dengan omzet hingga Rp300 juta per tahun. Meski begitu, tren pertumbuhannya menunjukkan potensi naik kelas.
"Pertumbuhan kawasan yang begitu masif, turut mendorong sektor usaha di Bahodopi ikut berkembang," ucap Dedy Kurniawan, Jumat (02/09/2026).
Ekonomi Sulteng Tumbuh 9,43 Persen
Dampak kawasan industri ini terlihat pada kinerja ekonomi provinsi. Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Tengah, Muhamad Irfan Sukarna, dalam laporan keuangan Provinsi Sulawesi Tengah (Februari 2026) menyebut ekonomi Sulteng pada triwulan IV 2025 tumbuh 9,43 persen (yoy).
Angka itu meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang sebesar 7,79 persen (yoy). Pertumbuhan tersebut menempatkan Sulawesi Tengah di atas Kepulauan Riau dan sebagian besar provinsi lain.
"Kinerja pertumbuhan ekonomi Sulteng ditopang oleh dominannya peran industri pengolahan berbasis nikel, pertambangan dan penggalian dalam struktur ekonomi daerah," tulis Muhamad Irfan Sukarna dalam laporannya.
Bagi IMIP, angka 13 tahun bukan sekadar penanda waktu. Kawasan yang dulu hanya berupa titik lingkaran di peta usang itu kini menjadi salah satu penopang utama ekonomi Sulawesi Tengah, dengan denyut usaha warga yang tumbuh di sekelilingnya.