PARIGI MOUTONG — BPBD Kabupaten Parigi Moutong mengerahkan penanganan darurat di Kecamatan Toribulu setelah hujan intensitas tinggi mengguyur kawasan itu sejak dini hari. Debit air Sungai Toribulu meningkat dan meluap ke permukiman warga sekitar pukul 06.10 WITA.
Enam desa terendam dalam peristiwa tersebut: Toribulu Selatan, Tomoli Utara, Sibalago, Singura, Tomoli Selatan, dan Sienjo. Ketinggian genangan bervariasi tergantung kontur wilayah masing-masing desa.
Normalisasi Saluran di Tiga Titik Rawan Genangan
Petugas BPBD memprioritaskan normalisasi saluran pembuang di Desa Tomoli Utara, Tomoli Selatan, dan Sienjo. Langkah ini bertujuan memperlancar aliran air yang tersendat akibat sedimentasi dan sampah yang menumpuk di saluran.
Normalisasi dilakukan agar genangan cepat surut dan dampak banjir terhadap rumah warga bisa ditekan. BPBD menilai tiga desa itu paling membutuhkan intervensi karena posisinya berada di titik terendah aliran sungai.
Penanganan banjir difokuskan pada pengurangan genangan dan pemulihan fungsi saluran air. Setelah saluran kembali normal, air diharapkan mengalir lancar menuju sungai tanpa hambatan.
Kekeringan di Wilayah Utara, Air Bersih Didistribusikan
Di saat yang sama, BPBD masih menangani dampak kekeringan yang berkepanjangan di wilayah utara Kabupaten Parigi Moutong. Distribusi air bersih terus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.
Desa Petunasugi dan Desa Kotanagaya di Kecamatan Bolano Lambunu menjadi prioritas utama distribusi. Kebutuhan air bersih di dua desa itu meningkat seiring sumber air lokal yang mengering.
Pola penanganan di wilayah kekeringan berbeda dengan wilayah banjir. BPBD mengarahkan seluruh sumber daya pada pemenuhan air bersih, bukan pada pengendalian genangan.
Dua Bencana, Dua Pendekatan Penanganan
Kabupaten Parigi Moutong menghadapi situasi cuaca yang tidak seragam: hujan lebat di selatan, kekeringan di utara. Kondisi ini memaksa BPBD membagi personel dan logistik ke dua wilayah berbeda dalam waktu bersamaan.
Penanganan banjir di Toribulu bersifat teknis infrastruktur, sementara penanganan kekeringan di Bolano Lambunu bersifat pemenuhan kebutuhan dasar. Keduanya berjalan paralel tanpa mengorbankan salah satu wilayah.
BPBD belum merinci jumlah rumah terdampak maupun total warga yang menerima distribusi air bersih. Pendataan masih berlangsung di lapangan seiring kondisi cuaca yang terus dipantau.