SULAWESI TENGAH — Pertamina New & Renewable Energy (Pertamina NRE) menyerahkan fasilitas panel surya berkapasitas 2,8 kWp, sumur bor, dan renovasi toilet kepada SDN 091686 Gunung Bayu, Kecamatan Bosar Maligas, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara, Kamis (24/9/2026). Bantuan melalui program Sekolah Energi Berdikari itu menjawab kebutuhan dasar yang absen hampir 15 tahun: listrik dan air bersih. Fasilitas ini diproyeksikan menghemat biaya listrik sekolah sekitar Rp5,182 juta per tahun sekaligus menekan emisi 3.192 kg CO?e per tahun.
Paragraf pembuka: Serah terima bantuan dilakukan secara simbolis oleh Arief Mulizar, Sr Officer Pertamina NRE, kepada Kepala Sekolah SDN 091686 Gunung Bayu, Jelita Tampubolon. Paket bantuan mencakup pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) 2,8 kWp dengan baterai 5 kWh, sumur bor, serta perbaikan kamar mandi sekolah yang sebelumnya rusak dan tak layak pakai.
Sebelum intervensi Pertamina NRE, SDN 091686 Gunung Bayu tidak memiliki sumber air layak dan listrik yang memadai. Kondisi itu berlangsung hampir 15 tahun dan memaksa warga sekolah beradaptasi dengan keterbatasan setiap hari.
“Sebelumnya kami tidak mempunyai listrik dan sudah hampir 15 tahun tidak mempunyai sumber air. Dengan adanya PLTS dan sumur bor dari Pertamina, sekarang kami sudah dapat menggunakan listrik dan memiliki sumber air untuk kebutuhan warga sekolah. Kamar mandi yang sebelumnya rusak dan tidak layak digunakan juga sudah dapat difungsikan kembali. Kami sangat berterima kasih kepada Pertamina NRE,” ujar Jelita Tampubolon.
PLTS yang dipasang tidak hanya menerangi ruang kelas. Arief Mulizar menjelaskan, listrik dari panel surya dimanfaatkan untuk menggerakkan pompa air sumur bor sekaligus menopang operasional sekolah sehari-hari.
Program Sekolah Energi Berdikari di SDN 091686 Gunung Bayu menyasar 85 siswa dan 15 guru. Dari sisi biaya, fasilitas ini diproyeksikan menghemat pengeluaran listrik sekolah sekitar Rp5,182 juta per tahun.
Dampak lingkungannya juga terukur: potensi reduksi emisi mencapai 3.192 kg CO?e per tahun. Angka itu menjadikan sekolah ini contoh kecil bagaimana energi terbarukan bisa masuk ke fasilitas publik di daerah terpencil, bukan hanya proyek skala besar.
“PLTS yang dipasang Pertamina NRE dimanfaatkan untuk mendukung operasional pompa air sumur bor sekaligus memenuhi kebutuhan listrik sekolah,” tutur Arief Mulizar.
Pertamina NRE tidak berhenti di pemasangan infrastruktur. Warga sekolah mendapat pelatihan pemanfaatan dan pemeliharaan PLTS, termasuk pengenalan pengoperasian sistem Solar PV off-grid.
Tujuannya agar guru dan siswa bisa mengoperasikan serta merawat fasilitas dengan tepat. Pendekatan ini penting supaya manfaat aset tidak berhenti di tahun pertama, melainkan bertahan dalam jangka panjang.
“Pertamina NRE berkomitmen untuk terus menghadirkan manfaat energi baru dan terbarukan yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Melalui Sekolah Energi Berdikari, kami tidak hanya menyediakan infrastruktur energi bersih, tetapi juga memastikan masyarakat penerima manfaat memiliki pemahaman untuk memanfaatkan dan menjaga aset tersebut secara berkelanjutan,” ujar Susanto August Satria, Manager Corporate Communication & Stakeholder Relation Pertamina NRE.
Kepala Desa Gunung Bayu, Ismail Hutasulut, menyambut baik bantuan tersebut. Ia berharap perhatian serupa bisa menjangkau sekolah-sekolah lain di wilayahnya yang masih menghadapi keterbatasan serupa.
“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada Pertamina NRE atas perhatian dan bantuan yang telah diberikan kepada sekolah kami. Kami berharap hubungan dan silaturahmi ini dapat terus terjalin dengan baik, sehingga ke depannya sekolah-sekolah lain yang masih membutuhkan juga dapat memperoleh perhatian,” ujar Ismail.
Penutup: Program Sekolah Energi Berdikari memadukan pemanfaatan energi surya dengan penyediaan akses air dan sanitasi untuk mendukung kegiatan belajar mengajar. Bagi Pertamina NRE, langkah ini menjadi cara memperkenalkan energi terbarukan ke wilayah operasional perusahaan sekaligus memberi manfaat sosial dan lingkungan yang bisa dihitung, bukan sekadar klaim.