SULAWESI TENGAH — Jumlah orangutan yang terdampak kabut asap karhutla di Kalimantan terus bertambah. Data terbaru dari tim konservasi mencatat 21 individu menunjukkan gejala ISPA, mulai dari batuk ringan hingga sesak napas berat.
Paparan asap pekat dalam durasi panjang membuat satwa dilindungi ini rentan mengalami gangguan pernapasan. Tim medis satwa sudah melakukan penanganan intensif di pusat rehabilitasi sejak gejala pertama terdeteksi pekan lalu.
Dari 21 orangutan yang diperiksa, sebagian besar masih dalam perawatan dan pemantauan harian. Gejala yang muncul meliputi batuk, pilek, hingga penurunan nafsu makan.
Beberapa individu dengan gejala berat mendapat nebulisasi dan terapi oksigen. Tim veteriner membatasi interaksi dengan manusia untuk mengurangi risiko infeksi sekunder.
Kabut asap berasal dari titik api yang meluas di sekitar kawasan hutan lindung dan area gambut. Angin membawa asap ke arah pusat rehabilitasi yang berada di zona penyangga.
Kualitas udara di lokasi tercatat masuk kategori berbahaya pada beberapa hari terakhir. Kondisi ini memaksa pengelola menutup area outdoor dan memindahkan satwa ke ruang semi-tertutup.
Tim medis satwa menerapkan protokol pernapasan untuk seluruh orangutan di fasilitas. Pemeriksaan harian dilakukan untuk memantau saturasi oksigen dan frekuensi napas.
Pengelola juga menyiapkan air bersih tambahan dan suplemen imun untuk memperkuat daya tahan satwa. Koordinasi dengan dinas kehutanan setempat dilakukan untuk memantau pergerakan titik api.
Paparan asap berulang dapat menurunkan kondisi kesehatan jangka panjang, terutama pada orangutan muda dan betina hamil. Risiko gangguan reproduksi dan infeksi paru menjadi perhatian utama.
Populasi orangutan di Kalimantan sudah berada dalam tekanan akibat hilangnya habitat dan konflik dengan manusia. Krisis kabut asap menambah beban konservasi yang sudah berat.
Upaya pemadaman titik api masih berlangsung dengan bantuan helikopter water bombing. Pemerintah daerah diminta mempercepat penanganan karhutla agar dampak ke satwa tidak meluas.
Organisasi lingkungan mendesak evaluasi kebijakan pengelolaan lahan gambut. Tanpa perbaikan tata kelola, kabut asap diprediksi kembali berulang setiap musim kemarau.
Tim konservasi akan terus memantau kondisi 21 orangutan tersebut dalam dua pekan ke depan. Jika gejala memburuk, evakuasi ke fasilitas medis yang lebih lengkap menjadi opsi terakhir.