IHSG Menguji Resistance 6.700, Net Buy Asing dan Sektor Consumer Jadi Katalis Utama

Penulis: Hendra Wijaya  •  Rabu, 09 September 2026 | 10:48:31 WIB
Petugas memantau pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang menguji resistance di level 6.700 pada penutupan perdagangan hari ini.

Riset harian Mandiri Sekuritas dan Phintraco Sekuritas menunjukkan IHSG berada dalam fase konsolidasi positif. Indikator MACD memperlihatkan penyempitan garis histogram negatif yang berpotensi membentuk sinyal golden cross, dengan support terdekat di level 6.600–6.620 dan resistance kuat di kisaran 6.715–6.730.

BRI Danareksa Sekuritas mencatat, penyerapan modal asing di instrumen berimbal hasil jangka pendek menjadi penahan utama Rupiah dari tekanan penguatan Indeks Dolar AS (DXY).

Rupiah Stabil di Rp 17.585, SRBI Jadi Magnet Modal Asing

Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah bergerak stabil dengan kecenderungan menguat terbatas di area Rp 17.580 hingga Rp 17.620 per dolar AS. Langkah Bank Indonesia mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) terus menjadi daya tarik bagi modal portofolio asing.

Bagi investor, nilai tukar yang stabil memberikan kepastian operasional bagi sektor manufaktur, farmasi, dan ritel impor. Sebaliknya, emiten berbasis ekspor komoditas perlu mencermati dampak penyesuaian pendapatan saat dikonversi ke dalam mata uang lokal.

Tiga Saham Pilihan: BMRI, ASII, dan INDF di Area Akumulasi

Konsensus riset dari BRI Danareksa Sekuritas, Mandiri Sekuritas, Ajaib, dan Stockbit menyoroti saham-saham berfundamental solid yang secara teknikal berada pada area akumulasi.

  • BMRI — Trading Buy pada rentang Rp 6.850–Rp 6.925. Target resistance di Rp 7.175–Rp 7.250, batas cut loss di Rp 6.750. Saham ini menjadi salah satu pengumpul net buy asing tertinggi, ditopang pertumbuhan kredit double digit dan rasio NPL terjaga rendah.
  • ASII — Accumulate Buy di rentang Rp 5.125–Rp 5.200. Target harga Rp 5.400, cut loss jika menembus ke bawah Rp 5.000. Sinyal indikator RSI menunjukkan potensi bullish reversal dari demand zone.
  • INDF — Buy on Breakout jika bertahan di atas Rp 6.750, dengan target resisten Rp 7.000. Sektor consumer staples mendapat sentimen positif dari stabilisasi harga bahan baku impor dan daya beli domestik yang terjaga.

Investor Disarankan Jaga Cash Ratio 15–20%

Penembusan (breakout) yang terkonfirmasi di atas level 6.700 memberikan ruang untuk penambahan posisi pada saham-saham siklikal dan perbankan utama. Namun, potensi profit taking jangka pendek tetap membayangi jika volume transaksi harian melandai.

Regulator memantau efektivitas mekanisme perdagangan guna meredam lonjakan volatilitas berlebih pada saham lapis kedua dan ketiga. Kenaikan kapitalisasi pasar yang ditopang inflow asing menjaga resiliensi pasar modal nasional.

Emas Antam di Rekor Tinggi, Minyak Brent Sentuh US$ 95,45

Harga emas batangan Antam pada perdagangan pagi ini stabil di kisaran Rp 2.640.000 hingga Rp 2.668.000 per gram. Di pasar spot internasional, emas (XAU/USD) bergerak konsolidasi di rentang US$ 2.445–US$ 2.460 per troy ounce seiring tingginya fungsi safe haven.

Minyak mentah Brent berada di US$ 95,45 per barel dan WTI di US$ 91,95 per barel, didorong kebijakan pengetatan pasokan OPEC+. Kondisi ini menjadi katalis positif bagi emiten migas seperti MEDC, ENRG, dan AKRA, serta mendukung ekspektasi margin emiten penambang emas BRMS, PSAB, dan MDKA.

Investasi mengandung risiko.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: stabilitas.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top