Film Imperium Garapan Sergei Loznitsa Rilis, Susun 60 Jam Rekaman Italia soal USSR

Penulis: Hendra Wijaya  •  Senin, 07 September 2026 | 19:19:01 WIB
Sergei Loznitsa merilis film dokumenter Imperium yang disusun dari 60 jam rekaman arsip Italia tentang kehidupan di Uni Soviet era 1970-an.

SULAWESI TENGAH — Sergei Loznitsa kembali dengan proyek arsip ambisiusnya. Setelah Maidan dan State Funeral, sang sineas asal Ukraina itu kini menggarap Imperium, sebuah film dokumenter yang mengandalkan rekaman era Soviet yang nyaris terlupakan. Proyek ini menjadi jendela untuk melihat bagaimana wilayah luas Uni Soviet beroperasi dari kacamata orang luar yang punya akses resmi.

Rekaman Italia yang Terlupakan

Pada awal 1970-an, kru film asal Italia menyebar ke berbagai penjuru USSR. Mereka merekam kehidupan sehari-hari, mulai dari komuter perkotaan, pesta desa, nelayan Baku, hingga penggembala rusa kutub di Siberia.

Rekaman ini awalnya direncanakan menjadi serial TV multi-episode yang monumental. Namun, hanya beberapa episode yang pernah ditayangkan di televisi Italia dan hanya sekali saja. Setelah itu, proyek ini terlantar di arsip selama puluhan tahun.

Loznitsa melihat potensi besar di sini. Ia merestorasi dan menyunting 60 jam materi 16mm tersebut menjadi sebuah narasi baru yang segar. Beberapa percakapan dan musik ditambahkan untuk menghidupkan suasana, tetapi esensi rekaman asli tetap dipertahankan.

Potret Keberagaman di Tengah Tekanan Ideologi

Alih-alih menampilkan citra Soviet yang abu-abu dan seragam, Imperium justru memperlihatkan keragaman etnis dan tradisi yang bertahan. Film ini bergerak secara geografis, dimulai dari Moskow sebelum berbelok ke wilayah Asia Tengah dan republik Baltik, hingga berakhir di Leningrad.

Penonton akan disuguhkan parade klasik di Lapangan Merah untuk Kongres ke-24 Partai Komunis, etalase department store GUM dengan barang-barang mewah, hingga ritual keagamaan yang tetap hidup meski kebijakan resmi negara saat itu adalah ateisme.

Saat kamera bergerak ke timur, tradisi lokal semakin terasa kuat. Ada balapan unta Baktria di dekat perbatasan Mongolia dan kereta luncur rusa di Republik Sakha. Bagian paling tajam dari kritik sosial dalam film ini muncul saat warga Kaukasus bernyanyi sementara penduduk asli Yakut hanya menjadi penonton di tanah mereka sendiri—sebuah komentar sinematik tentang kolonialisme gaya Soviet.

Relevansi Sejarah dan Kontras dengan Masa Kini

Pesan utama yang ingin disampaikan Loznitsa adalah betapa sulitnya menghapus tradisi lama yang sudah mengakar. Meski negara memproklamasikan kesatuan dan modernitas, praktik agama di Bukhara dan Etchmiadzin tetap berjalan. Resistensi budaya ini justru lebih berhasil bertahan dibandingkan perlawanan politik terbuka.

Menariknya, film ini juga memantik refleksi tentang bagaimana perubahan sosial justru datang dari kapitalisme dan internet, bukan dari kebijakan Kremlin. Loznitsa tampaknya ingin menunjukkan bahwa populasi multikultural yang dulu bertahan melawan tekanan Soviet, kini lebih mudah menyerap budaya konsumerisme Barat.

Bagi generasi yang tidak hidup di era Perang Dingin, Imperium mungkin terasa panjang dan konteksnya sulit dicerna. Namun bagi mereka yang ingat bagaimana Uni Soviet digambarkan di media Barat—jauh sebelum era Reagan menyebutnya sebagai "Evil Empire"—film ini adalah koreksi visual yang berharga. Karya ini mengingatkan bahwa realitas sosial selalu lebih kompleks dari sekadar label politik yang disematkan dari luar.

Reporter: Hendra Wijaya
Sumber: variety.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top