SULAWESI TENGAH — Lonjakan harga saham UANG memang tajam. Berdasarkan data IDNFinancials.com, dalam tiga bulan terakhir harga saham emiten berkode UANG ini melesat lebih dari 100%. Namun secara year-to-date (awal tahun), harga saham UANG masih terkoreksi 10% ke level Rp4.010 per lembar pada penutupan perdagangan pekan lalu.
BEI dalam keterangan resminya akhir pekan lalu menegaskan bahwa status UMA tidak serta merta menunjukkan adanya pelanggaran peraturan perundang-undangan di bidang pasar modal. Bursa menyatakan akan terus mencermati pola transaksi dan perdagangan saham UANG.
Otoritas bursa meminta para investor mencermati jawaban resmi perusahaan atas permintaan konfirmasi yang telah dilayangkan. Investor juga diingatkan untuk memperhatikan rencana aksi korporasi UANG, terutama jika belum mendapatkan persetujuan dari pemegang saham.
Status UMA kerap memicu gejolak harga di pasar. Investor ritel biasanya bereaksi cepat terhadap pengumuman ini, baik dengan aksi ambil untung maupun sebaliknya. Volatilitas saham pun berpotensi meningkat dalam beberapa sesi ke depan.
Data akumulasi tiga bulan terakhir menunjukkan perbedaan arah transaksi antar sekuritas. Samuel Sekuritas Indonesia menjadi broker dengan pembelian bersih (net buy) terbesar, mencatatkan akumulasi Rp2,5 miliar atau setara 7,1 ribu lot saham.
Disusul BRI Danareksa Sekuritas dengan net buy Rp1,2 miliar dan Indo Premier Sekuritas yang membukukan net buy Rp803,7 juta. Di sisi lain, tekanan jual terbesar datang dari Stockbit Sekuritas Digital dengan net sell mencapai Rp3,3 miliar.
Mayoritas saham UANG masih dikuasai Tri Ramadi melalui PT Sirius Surya Sentosa dengan porsi kepemilikan 40,99%. Sementara itu, Hapsoro yang juga menjadi pengendali memiliki 19,35% saham secara langsung, menjadikannya pemegang saham terbesar kedua di perusahaan.
Sebagai emiten properti dan real estate, pergerakan saham UANG yang agresif dalam waktu singkat ini menarik perhatian pelaku pasar. Apalagi, aksi akumulasi saham oleh sejumlah sekuritas terjadi di tengah status pengawasan bursa yang sedang berlangsung.
Investasi mengandung risiko. Seluruh keputusan investasi tetap berada di tangan masing-masing investor berdasarkan hasil analisis terhadap informasi resmi yang tersedia.