MOROWALI — Penerbangan carter perdana rute Bandara Domestik IMIP menuju Bandar Udara Internasional Mutiara Sis Al-Jufri Palu mengudara dengan pesawat Airbus A320 bernomor penerbangan IU 2254. Maskapai Super Air Jet mengangkut pekerja IMIP dan para mitra usaha kawasan industri nikel terbesar di dunia tersebut.
Waktu tempuh hanya 45 menit, jauh lebih cepat dibandingkan perjalanan darat yang memakan waktu berjam-jam. Konektivitas ini menjadi jawaban atas kebutuhan mobilisasi pekerja, manajemen, investor, hingga tamu bisnis yang selama ini terkendala akses transportasi.
Penerbangan perdana yang berlangsung Kamis (03/09/2026) itu memadati 88 persen kursi yang tersedia. Artinya, animo penumpang untuk rute anyar ini cukup tinggi sejak hari pertama operasional.
Head of Media PT IMIP, Dedy Kurniawan, menyatakan pembukaan rute ini merupakan komitmen IMIP memperkuat konektivitas di Sulawesi Tengah.
"Sebagai kawasan industri pengolahan nikel global, IMIP terus memperkuat konektivitas dan mobilisasi pekerja. Kami juga mendukung peningkatan serapan pajak daerah yang lebih maksimal dengan hadirnya rute penerbangan ini," ujar Dedy di Morowali, Kamis (03/09/2026).
Bandara Domestik PT IMIP beroperasi di bawah pengawasan Kantor Otoritas Bandar Udara Wilayah V Sultan Hasanuddin Makassar. Fasilitas yang disiapkan disebut bertaraf bandara modern, mulai dari ruang tunggu ber-AC, ruang VIP, kafe, hingga toilet umum.
Keamanan penerbangan juga ditopang keberadaan sistem AVIS, yaitu panduan navigasi berbasis visual dan suara yang membantu pilot saat pendaratan maupun navigasi taktis. Fitur ini menjadi standar keselamatan yang diandalkan untuk operasional rutin ke depan.
Kehadiran rute ini tidak sekadar memangkas waktu tempuh. Dedy menegaskan bahwa konektivitas udara ini punya arti lebih luas bagi penerimaan daerah dan pergerakan roda ekonomi.
"Konektivitas ini memiliki arti lebih luas bagi Morowali dan Sulawesi Tengah dalam meningkatkan penerimaan pajak daerah dan menggerakkan roda ekonomi," tandasnya.
Dengan beroperasinya rute IMIP-Palu, arus logistik dan pergerakan orang antara kawasan industri dan pusat pemerintahan provinsi diharapkan semakin efisien, sekaligus membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru bagi masyarakat sekitar.