SULAWESI TENGAH — Bukan rahasia lagi kalau tren desain kelas entry-level kini mengarah pada modul kamera belakang besar yang mirip ponsel flagship Apple. Dua pendatang dari Transsion Holdings, Itel Power 80 dan Tecno Spark 50, hadir di segmen harga dua jutaan dengan wajah yang sekilas terlihat seperti iPhone 17 Pro, tapi dengan karakter yang bertolak belakang. Setelah menelisik spesifikasi dan positioning masing-masing, berikut perbedaan yang perlu kamu pertimbangkan sebelum memutuskan.
Secara kasat mata, keduanya memakai tata letak tiga lensa simetris di belakang dengan finishing matte yang tahan noda sidik jari, plus bingkai flat frame yang kokoh. Namun, target konsumennya jelas dibedakan lewat pilihan warna.
Itel Power 80 tampil lebih kalem dengan opsi warna metalik yang memberi kesan tangguh dan elegan. Sebaliknya, Tecno Spark 50 menyasar pengguna muda lewat pilihan warna pastel dengan efek gradasi cahaya yang lebih atraktif di punggungnya. Kalau kamu mau ponsel yang terlihat dewasa saat dibawa ke kantor, Itel lebih aman. Tapi kalau ingin tampil beda di tongkrongan, Tecno punya daya tarik visual lebih kuat.
Keduanya sama-sama mengusung panel lega dengan refresh rate tinggi yang membuat scroll media sosial terasa mulus dan menonton video lebih nyaman. Perbedaan mulai terasa saat dipakai di luar ruangan.
Tecno Spark 50 unggul di optimasi kecerahan layar, jadi konten tetap terbaca jelas di bawah sinar matahari langsung. Itel Power 80 sendiri menawarkan reproduksi warna yang lebih seimbang untuk penggunaan jangka panjang di dalam ruangan, yang mungkin lebih nyaman untuk matamu jika kamu sering membaca atau bermain game pada malam hari.
Inilah pembeda utama yang tidak bisa dilihat dari sekadar desain. Itel Power 80, sesuai dengan nama serinya, memprioritaskan efisiensi daya dan kapasitas baterai jumbo. Ini pilihan yang masuk akal untuk kamu yang mobilitasnya tinggi dan tidak mau repot mencari colokan listrik di tengah hari.
Tecno Spark 50, di sisi lain, mengarahkan sumber dayanya untuk manajemen multitasking yang lebih responsif. Kombinasi antara ruang penyimpanan internal yang luas dan pengoptimalan sistem operasi membuat Tecno terasa lebih lincah saat berpindah antar aplikasi berat secara bersamaan. Jadi, kalau kamu tipe yang sering membuka banyak aplikasi sekali jalan, Tecno terasa lebih ringan dioperasikan.
Meski bergaya flagship, penting untuk tidak berekspektasi tinggi pada kualitas kamera hanya karena modulnya besar. Di segmen harga ini, kamera belakang biasanya hanya mampu menghasilkan foto yang cukup baik di kondisi cahaya cukup, dan kedua merek ini tidak dijelaskan secara detail lebih lanjut. Desain premium lebih berperan sebagai alat untuk memenuhi gengsi, bukan jaminan hasil jepretan setara iPhone.
Perlu juga dicatat bahwa baik Itel maupun Tecno, sebagai lini dari Transsion, biasanya tidak menyertakan adapter fast charging di dalam kotak penjualan. Hal ini akan menyusul saat produk resmi beredar di Indonesia, jadi periksa kembali isi paket penjualannya.
Jawabannya bergantung pada prioritas harianmu.
Di kelas dua jutaan, kamu berhak dapat ponsel yang tampak mahal. Yang menentukan nilai investasinya adalah seberapa cocok fitur tersebut dengan gaya hidupmu—jangan sampai terjebak desain, tapi lupa kebutuhan paling dasar dari smartphone itu sendiri.