PALU — PT Pelni (Persero) dan operator kapal swasta telah merilis jadwal pelayaran untuk rute Surabaya–Palu sepanjang Mei 2026. Total enam rencana keberangkatan tercatat dalam daftar tersebut, menandakan pemulihan frekuensi angkutan laut yang sempat berkurang akibat cuaca buruk pada Februari hingga Maret lalu. Rute ini menjadi tulang punggung distribusi sembako, material bangunan, dan kebutuhan pokok dari Jawa ke Sulawesi Tengah.
Berdasarkan data yang dihimpun, setiap kapal yang melayani rute Surabaya–Palu memiliki jadwal keberangkatan yang tersebar merata sepanjang bulan. Daftar tersebut mencakup kapal milik Pelni maupun kapal swasta yang beroperasi di lintas nusantara. Frekuensi enam kali dalam sebulan ini naik 50 persen dibandingkan rata-rata tiga hingga empat keberangkatan pada kuartal pertama 2026.
Kepala Dinas Perhubungan Sulawesi Tengah, melalui keterangan resmi, menyebutkan bahwa tambahan jadwal ini akan memperlancar distribusi barang menjelang musim panen raya di beberapa daerah. “Dengan frekuensi yang lebih rapat, stok barang di gudang distributor bisa dipulihkan lebih cepat. Ini berdampak langsung pada harga di tingkat konsumen,” ujarnya.
Para pedagang di Pasar Masomba Palu menyambut baik kabar ini. Salah seorang pedagang sembako mengaku bahwa ongkos kirim dari Surabaya sempat melonjak 20 persen saat jumlah kapal berkurang. Kini, dengan enam jadwal tersedia, biaya logistik diperkirakan kembali normal.
Bagi warga yang hendak mudik atau bepergian dari Surabaya ke Palu, pihak agen kapal menyarankan pemesanan tiket setidaknya H-7. Pasalnya, pada Mei 2026 bertepatan dengan libur panjang Hari Raya Idul Fitri yang biasanya meningkatkan permintaan tiket kelas ekonomi hingga dua kali lipat.
Untuk pengiriman barang, para pengusaha logistik di Palu sudah mulai mengontrak ruang kargo sejak pekan lalu. Seorang pemilik jasa ekspedisi di Palu mengatakan bahwa tarif kargo per kilogram untuk rute ini masih kompetitif, yaitu berkisar Rp 3.500 hingga Rp 5.000 tergantung volume.
Jika dibandingkan dengan Mei 2025, jumlah keberangkatan tahun ini lebih banyak dua jadwal. Pada periode yang sama tahun lalu, hanya tercatat empat kali pelayaran karena satu kapal mengalami perawatan mesin di dok Surabaya. Kondisi itu sempat memperpanjang waktu tunggu barang hingga satu pekan di gudang transit.
Dengan adanya tambahan jadwal ini, diharapkan rantai pasok dari Pulau Jawa ke Sulawesi Tengah tidak lagi mengalami hambatan berarti. Pemprov Sulteng sendiri terus mendorong penambahan trayek agar biaya logistik di daerah terpencil bisa ditekan.