SULAWESI TENGAH — Pergerakan rupiah pada hari ini sejalan dengan tren pelemahan yang dialami sejumlah mata uang kawasan. Ringgit Malaysia terkoreksi 0,04%, dolar Singapura melemah 0,05%, yen Jepang turun 0,06%, dan won Korea Selatan terdepresiasi 0,16%. Di sisi lain, yuan China dan peso Filipina mencatatkan penguatan tipis masing-masing 0,05% dan 0,09% terhadap greenback.
Tekanan terhadap rupiah tidak hanya datang dari domestik, tetapi juga dari penguatan dolar AS di pasar global. Seluruh mata uang utama negara maju kompak berada di zona merah pada pagi ini. Euro Eropa melemah 0,05%, poundsterling Inggris turun 0,04%, dan dolar Australia terkoreksi 0,06%. Dolar Kanada dan franc Swiss juga ikut terdepresiasi masing-masing 0,08% dan 0,03%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa permintaan terhadap aset safe haven masih tinggi di tengah ketidakpastian geopolitik global. Pelaku pasar mencermati respons Iran terhadap proposal terbaru dari Amerika Serikat, yang dinilai bisa memicu eskalasi konflik di Timur Tengah.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah akan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.750 per dolar AS pada perdagangan hari ini. Menurutnya, sentimen pasar masih didominasi oleh sikap wait and see menjelang rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I-2025 Indonesia.
"Rupiah diperkirakan berkonsolidasi terhadap dolar AS. Investor wait and see rilis data neraca transaksi berjalan kuartal I Indonesia. Investor juga masih mengantisipasi respons Iran terhadap proposal terbaru Amerika Serikat," ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.