Kemendikdasmen Luncurkan Program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK 3+1, 49 Sekolah di Indonesia Siapkan Lulusan Global

Penulis: Gunawan Susilo  •  Jumat, 22 Mei 2026 | 08:03:01 WIB
Kemendikdasmen meluncurkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) untuk siapkan lulusan bekerja di Jepang, Jerman, dan Korea Selatan.

SURABAYA — Lulusan SMK yang ingin bekerja di Jepang, Jerman, atau Korea Selatan kini punya jalur khusus. Kemendikdasmen resmi meluncurkan program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) di Surabaya, Rabu (20/5). Program ini menambah satu tahun masa belajar setelah tiga tahun kurikulum nasional.

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti bersama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Dirjen Dikmen Diksus Tatang Muttaqin melepas 3.000 lulusan SMK dan 600 lulusan Lembaga Kursus dan Pelatihan (LKP) yang akan bekerja di luar negeri. Acara ini sekaligus menandai dimulainya program strategis yang dirancang sejak 2025.

Tahun Keempat: Bukan Sekadar Belajar Bahasa

Dirjen Dikmen Diksus Tatang Muttaqin menjelaskan bahwa tambahan satu tahun bukan hanya untuk kursus bahasa. “Bekerja di luar negeri tentu tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar hidup mandiri dan menjadi duta dan membawa nama baik bangsa,” katanya.

Pada tahun keempat, siswa akan mempelajari budaya kerja, sistem hukum, dan hak-hak perlindungan tenaga migran Indonesia di negara tujuan. Materi ini disusun agar lulusan tidak mengalami culture shock atau masalah hukum saat bekerja di luar negeri.

49 SMK Sudah Siap, Target Nasional

Saat ini program Kelas Kebekerjaan Luar Negeri SMK (3+1) sudah diterapkan di 49 SMK di berbagai daerah. Setiap sekolah diminta mengintegrasikan dimensi kebekerjaan internasional ke dalam kurikulum satuan pendidikan masing-masing.

Kepala SMKS Muhammadiyah 1 Malang, Kusdarmadi, menyambut baik kebijakan ini. “Kalau hanya persiapan tiga tahun di sekolah itu masih sangat kurang. Murid perlu tambahan waktu untuk persiapan bekerja di luar negeri, terutama tambahan dari aspek bahasa, adaptasi negara tujuan,” ujarnya.

Mendikdasmen: Hak Konstitusi untuk Hidup Layak

Abdul Mu’ti menegaskan bahwa program ini bukan sekadar menjawab kebutuhan pasar global. “Program ini sekaligus menjadi upaya untuk memenuhi hak konstitusi, di mana setiap warga negara berhak mendapat kehidupan yang layak bagi kemanusiaan,” ujarnya dalam sambutan.

Menurutnya, pengembangan SMK ke depan tidak hanya menyiapkan tenaga kerja dalam negeri, tetapi juga internasional. Peningkatan mobilitas pasar tenaga kerja global menuntut dunia pendidikan vokasi beradaptasi cepat.

Jembatan Kebekerjaan Internasional

Dirjen Tatang menyebut program ini sebagai jembatan kebekerjaan internasional lulusan SMK. “Program ini adalah jembatan kebekerjaan internasional lulusan SMK yang sesuai dengan arah kebijakan pendidikan vokasi yang mendorong link and match dengan industri serta memperluas akses peluang kerja, termasuk peluang kerja luar negeri,” katanya.

Ia menambahkan bahwa kerja sama dengan industri di negara tujuan akan menjadi wajah masa depan pendidikan vokasi Indonesia. Program ini diharapkan menghasilkan generasi muda yang produktif, berdaya saing global, dan mampu meningkatkan reputasi tenaga kerja Indonesia di dunia internasional.

Reporter: Gunawan Susilo
Sumber: kemendikdasmen.go.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top