Harga BBM Diesel Pertamina, BP-AKR, dan Vivo Kompak Melonjak per 16 Mei 2026, Ada yang Naik Hampir Dua Kali Lipat

Penulis: Faizal Ramadhan  •  Sabtu, 16 Mei 2026 | 11:49:30 WIB
Harga BBM diesel di SPBU Vivo melonjak hampir dua kali lipat per 16 Mei 2026.

SULAWESI TENGAH — Pergerakan harga BBM nonsubsidi di awal Mei 2026 menunjukkan tren kenaikan yang tidak merata. Jika harga bensin seperti Pertamax dan BP 92 masih stabil, nasib berbeda dialami pengguna bahan bakar diesel. Data per 16 Mei 2026 mencatat, Vivo menjadi operator yang melakukan penyesuaian paling agresif. Harga Diesel Primus (CN 51) di SPBU Vivo melonjak dari Rp14.610 per liter menjadi Rp30.890 per liter. Artinya, konsumen harus merogoh kocek lebih dari dua kali lipat dibandingkan harga sebelumnya pada pertengahan April 2026.

Pertamina dan BP-AKR Ikut Angkat Harga Dexlite dan Ultimate Diesel

PT Pertamina (Persero) juga tak ketinggalan menyesuaikan harga jual produk dieselnya. Di wilayah Jakarta, Dexlite (CN 51) naik menjadi Rp26.000 per liter dari sebelumnya Rp23.600 per liter. Kenaikan lebih tajam terjadi pada Pertamina Dex (CN 53) yang kini dibanderol Rp27.900 per liter, melonjak Rp4.000 dari harga sebelumnya Rp23.900 per liter. Sementara itu, SPBU BP-AKR mematok BP Ultimate Diesel (CN 53) di angka Rp30.890 per liter, naik signifikan dari Rp25.560 per liter pada pertengahan April 2026. Kenaikan ini terjadi di tengah fluktuasi harga minyak global dan nilai tukar rupiah.

Harga Bensin Premium dan Pertalite Masih Aman

Kabar baik bagi pengguna kendaraan bensin. Harga produk BBM nonsubsidi jenis bensin dari ketiga operator masih bertahan. Pertamina mempertahankan harga Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green 95 (RON 95) di level sebelumnya. BP-AKR juga tidak mengubah harga BP 92 (Rp12.390 per liter) dan BP Ultimate (Rp12.930 per liter). Begitu pula dengan Vivo yang masih menjual Revvo 92 (Rp12.390 per liter) dan Revvo 95 (Rp12.930 per liter) tanpa perubahan. Untuk BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Solar Subsidi, pemerintah dan Pertamina belum mengumumkan adanya penyesuaian harga.

Mengapa Kenaikan Hanya Terjadi di Segmen Diesel?

Fenomena ini menarik dicermati. Kenaikan harga yang hanya terjadi pada produk diesel menunjukkan adanya tekanan biaya yang spesifik pada pasokan bahan bakar jenis tersebut. Salah satu faktornya adalah perubahan harga minyak mentah global yang memengaruhi harga minyak solar (gasoil) lebih cepat ketimbang bensin. Selain itu, kebijakan pencampuran biodiesel (B35) dan fluktuasi harga CPO juga ikut mempengaruhi struktur biaya produksi solar di dalam negeri. Bagi pelaku industri logistik dan angkutan umum yang mayoritas menggunakan solar, kenaikan ini berarti tekanan langsung pada biaya operasional.

Reporter: Faizal Ramadhan
Sumber: idxchannel.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top