Pada era PlayStation 2, gamer bisa memilih dari belasan judul balap arkade—mulai dari Midnight Club, Burnout, Flat Out, hingga Need for Speed. Kini, keragaman itu nyaris lenyap. Satu-satunya seri yang masih mendominasi panggung balap arus utama adalah Forza Horizon, yang menurut data penjualan terbaru, berjalan tanpa pesaing berarti. Seorang pengguna Reddit dengan nama mido_sama menulis, "It has no competition." Pengguna lain, fvgh12345, menambahkan bahwa kondisi industri balapan saat ini "kinda sad" dan merindukan kembalinya judul-judul seperti Midnight Club, Flat Out, atau Twisted Metal.
Meski judul simulasi murni seperti iRacing dan rFactor mencatat penjualan yang solid untuk ukuran niche, angkanya masih jauh dari franchise arkade legendaris. Assetto Corsa, seri sim terlaris sekalipun, baru mampu menyamai total penjualan Midnight Club—sebuah seri yang hanya eksis kurang dari sepuluh tahun di era 2000-an, sebelum industri game benar-benar meledak. Bandingkan dengan katalog Need for Speed yang terjual dalam orde puluhan juta kopi lebih banyak.
Fenomena ini menunjukkan satu hal: genre balap secara keseluruhan justru menjadi semakin tidak mudah diakses oleh pemain biasa. Padahal, di sisi lain, olahraga balap dunia nyata justru mengalami peningkatan popularitas. Seorang rekan non-penggemar mobil penulis artikel asal PC Gamer mengaku mulai mengikuti F1 dan Indycar karena ini satu-satunya olahraga besar yang bisa ditonton tanpa perlu berlangganan layanan streaming mahal dan rumit.
Mark Puc, perwakilan Fanatec yang disebutnya sebagai "OG of sim racing", menjelaskan di SimRacing Expo 2026 bahwa pertumbuhan sim racing tidak lepas dari efek Drive to Survive, dokumenter F1 produksi Netflix. Menurut Puc, "the correlation between sim racing and real racing is very analog, so one supports the other." Ia menambahkan bahwa banyak orang yang memulai sim racing kini akhirnya benar-benar membalap di sirkuit sungguhan.
Fenomena ini juga melahirkan bintang-bintang baru. YouTuber Jimmy Broadbend (1 juta subscriber) dan Steve Alvarez Brown alias Super GT—keduanya disponsori Fanatec—berawal dari simulator rumahan dan kini menjadi pembalap profesional di Nürburgring Langstrecken-Serie yang disponsori Bilstein. Sim racing, dengan rig senilai ribuan dolar, perlahan bertransformasi: bukan lagi sekadar cara mahal untuk bermain gim, melainkan cara yang lebih murah untuk memiliki mobil balap.
Penulis artikel asli mengakui bahwa ia sendiri tidak pernah benar-benar jatuh cinta pada sim racing. Setelah membeli Thrustmaster T150 RS seharga 300 dolar AS—jumlah yang besar untuk pemain kasual—ia merasa pengalamannya hanya "middling facsimile" dari berkendara sungguhan. Tanpa mengeluarkan setidaknya 2.000 dolar AS lagi untuk kursi haptic feedback, rig entry-level itu terasa tak beda jauh dengan bermain Gran Turismo memakai stik DualShock biasa.
Namun, mungkin ini bukan soal matinya genre arkade. Mungkin sim racing bukanlah pengganti gim balap murah, melainkan substitusi untuk mobil balap sungguhan yang harganya puluhan ribu dolar. "Maybe a $1,000 sim rig isn't displacing a $10 PlayStation controller, but rather a substitute for a $10,000 track-modified Mazda Miata or a $15 million Formula 1 car," tulis sang jurnalis. Selama hasrat untuk melaju masih ada, dunia virtual akan tetap menjadi tempat berlindung—bahkan jika itu berarti memainkan Gran Turismo lawas berusia 20 tahun atau memasang kembali setir Thrustmaster untuk berkeliling Tokyo Expressway dalam Dodge Durango SRT Hellcat.